Sejarah
Ternyata Jenderal Besar TNI AH Nasution Pernah jadi Guru di Tanjungraja Sumsel. Ini Lokasinya
Perjalanan hidup manusia memang tidak lepas dari kehendak Allah SWT yang Maha Mengatur. Walau punya talenta dan didkukung riwayat pendidikan memadai
Penulis: Salman Rasyidin | Editor: Salman Rasyidin
Pada tahun 1958, Nasution menyampaikan pidato di Magelang, Jawa Tengah, Nasution menyatakan bahwa ABRI harus mengadopsi “jalan tengah” dalam pendekatan terhadap bangsa.
Menurutnya, ABRI tidak harus di bawah kendali sipil. Pada saat yang sama, ABRI tidak boleh mendominasi bangsa dengan sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah kediktatoran militer.
Pada 5 Juli 1959, Soekarno mengeluarkan dekret yang menyatakan bahwa Indonesia sekarang akan kembali ke UUD 1945 yang asli.
Ahmad Haris Nasution diangkat menjadi Menteri Pertahanan dan Keamanan di Kabinet Soekarno dan Ia tetap memegang jabatan sebagai Kepala Staf Angkatan Darat.
Pada Juli 1962, Soekarno mereorganisasi struktur.
Kepala cabang Angkatan Bersenjata akan ditingkatkan dari kepala staf menjadi panglima, Soekarno sebagai Panglima
Tertinggi ABRI dan Nasution ditunjuk sebagai kepala staf ABRI.
Percobaan Penculikan Oleh Pasukan Gerakan 30 September
Pada pagi hari 1 Oktober 1965, pasukan yang menamai dirinya Gerakan 30 September mencoba untuk menculik 7 perwira Angkatan Darat yang anti komunis dan Nasution
masuk dalam daftarnya. Pada pukul 04:00, pasukan yang dipimpin oleh Letnan latief untuk menangkap Nasution menuju rumah Nasution yang berada di jalan Teuku Umar
no.40 dengan mengendarai empat truk dan dua mobil militer .
Penjaga rumah di pos jaga luar melihat kendaraan datang, namun setelah melihat yang datang adalah para tentara ia tidak curiga dan tidak menelepon atasannya yaitu Sersan
Iskaq. Sersan Ishaq berada di ruang jaga di ruang depan bersama dengan 6 tentara dan beberapa di antaranya sedang tidur. Seorang penjaga sedang tidur di taman depan dan
satu lagi sedang bertugas di bagian belakang rumah. Dalam sebuah pondok terpisah, dua ajudan Nasution sedang tidur yaitu seorang letnan muda bernama Pierre Tendean,
dan ajun komisaris polisi Hamdan Mansjur.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/nasu_20170818_105231.jpg)