Sejarah
Ternyata Jenderal Besar TNI AH Nasution Pernah jadi Guru di Tanjungraja Sumsel. Ini Lokasinya
Perjalanan hidup manusia memang tidak lepas dari kehendak Allah SWT yang Maha Mengatur. Walau punya talenta dan didkukung riwayat pendidikan memadai
Penulis: Salman Rasyidin | Editor: Salman Rasyidin
SRIPOKU.COM --Perjalanan hidup manusia memang tidak lepas dari kehendak Allah SWT yang Maha Mengatur. Walau punya talenta dan didkukung riwayat pendidikan yang memadai, yang namanya kehendak Sang Pengatur, kita tinggal menjalaninya.
Seperti dikutip dari Biografi AH Nasution, Setidaknya yang tercatatat dalam perjalan karir Jenderal Besar TNI (Purn) AH Nasution yang selama ini dikenal masyarakat dan bangsa hanya ini sebagai Tentara yang sebelumnya adalah seorang guru.
Tidak banyak yang mengetahui karena dilatarbelakangi sebagai anak pedagang, Pemuda Nasution sempat "terdampar" sebagai tenaga pendidik di Tanjung Raja setelah pindah dari Bengkulu.
Namun tidak dijelaskan secara apakah Nasution mengajar di sekolah mana dan termasuk tingkat SLTP atau SLTA
Abdul Haris Nasution Lahir di Desa Hutapungkut, Kotanopan, Mandailing Natal, Sumatera Utara pada 3 Desember 1918.
Ia lahir dari keluarga batak muslim, Ia merupakan anak kedua dan anak laki-laki tertua di keluarganya.
Ayah Nasution merupakan seorang pedagang dan juga anggota Sarekat Islam.
Ayahnya yang sangat religius, menginginkan Nasution untuk belajar di sekolah agama namun sang ibu menginginkan agar dia sekolah kedokteran di Batavia.
Setamat dari sekolah pada 1932, Ia mendapatkan beasiswa untuk belajar mengajar di Bukit Tinggi.
Pada tahun 1935, Nasution pindah ke Bandung untuk melanjutkan pendidikannya dan Ia tinggal disana selama 3 tahun.
Keinginannya untuk menjadi seorang guru lama kelamaan memudar saat ketertarikan dalam bidang politiknya tumbuh.
Setelah lulus pada tahun 1937, Ia kembali ke Sumatera dan mengajar di Bengkulu. Setahun kemudian Ia pindah mengajar ke Tanjung Raja (Ogan Ilir --OI) dekat Pelembang.
Namun minatnya pada politik dan militer lebih besar.
Tahun 1940, Jerman Nazi menguasai Belanda dan pemerintah kolonial Belanda membentuk korps perwira cadangan yang menerima orang Indonesia.
Kemudian Nasution bergabung dan dikirim ke Akademi Militer Bandung untuk pelatihan.
Pada September 1940, Ia dipromosikan menjadi Kopral dan 3 bulan kemudian ia menjadi sersan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/nasu_20170818_105231.jpg)