Tradisi Ruwahan

Ketika kita memasuki bulan Sya'ban, seperti saat ini, biasanya masyarakat Islam Indonesia banyak yang melakukan sedekah ruwah

Editor: Salman Rasyidin
Ist
H. Hendra Zainudin MPd.I 

Sungguh luar biasa ketika para Walisongo secara cerdas mampu menterjemahkan tradisi ruwahan dalam konteks realitas sosial umat Islam Indonesia.

Sebab ruwahan awalnya merupakan tradisi agama Hindu secara cerdas diberi nuansa ajaran Islam yang sesuai dengan konteks masyarakat Islam Indonesia.

Ritual ruwahan dapat dikatakan sebagai manifestasi wujud bakti dan rasa penghormatan kita sebagai generasi penerus kepada para pendahulu yang kini telah disebut sebagai leluhur.

Atau dalam kalimat lain, mendoakan arwah leluhur berarti kita sudah mewujudkan birrul walidain atau ketaatan kepada orangtua (atau leluhur) sebagai salah satu bentuk amal jariah.

Karenanya, tradisi ruwahan yang didasari oleh kesadaran spiritual yang tepat di mana kita harus "sesirih" atau bersih-bersih diri meliputi bersih lahir dan bersih batin.

Tidak hanya membersihkan diri pribadi, tetapi juga membersihkan lingkungan sekitar tempat tinggal.

Tradisi saling memaafkan pada saat Ruwahan, dianggap sebagai tradisi baik karena hanya pada menjelang memasuki Ramadhan semua umat muslim bersilaturrahim, bertatap muka, saling mendoakan dan saling memaafkan.

Konsep saling memaafkan (afiina aninnaas) digambarkan oleh kitab suci Al-Quran sebagai ciri dari kesempurnaan manusia (taqwa).

Sebagai local genius karya Walisongo, tradisi ruwahan hendaknya tetap kita lestarikan agar tidak hilang seiring dengan perkembangan zaman dan mengambil sisi positif dari adanya tradisi tersebut.

Sebab, secara substantif --khususnya bagi umat nahdliyin, tradisi ruwahan ini tidak bertentangan dengan syariat Islam.

Hal itu bisa dipahami dari beberapa hal berikut; Pertama, ketika datangnya bulan ruwah biasanya masyarakat melakukan ziarah kubur dan hal ini diperbolehkan Rasulullah SAW bersabda;

"Saya pernah melarang kalian berziarah kubur, tetapi sekarang ziarahilah kuburan, karena sesungguhnya ziarah itu mengingatkan kalian kepada akhirat." (HR Muslim).

Kedua, bakti seorang anak tetap bisa dipersembahkan kepada orangtuanya, meskipun kedua orangtuanya atau salah satu di antara keduanya telah meninggal dunia.

Dan salah satu caranya adalah dengan mendoakan mereka.  Ketiga, sedekah ruwah adalah perbuatan baik yang mendapatkan ganjaran berlipat dari Allah SWT.

Allah SWT berfirman:

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved