Tradisi Ruwahan

Ketika kita memasuki bulan Sya'ban, seperti saat ini, biasanya masyarakat Islam Indonesia banyak yang melakukan sedekah ruwah

Editor: Salman Rasyidin
Ist
H. Hendra Zainudin MPd.I 

Oleh: H. Hendra Zainuddin. M.Pd.I

* Pimpinan Pesantren Aulia Cendekia Talang Jambe Palembang)

SRIPOKU.COM -- Ketika kita memasuki bulan Sya'ban, seperti saat ini, biasanya masyarakat Islam Indonesia banyak yang melakukan sedekah ruwah, sehingga terkadang dalam satu malam saja terdapat dua atau lebih keluarga yang melaksanakannya.

Pada dasarnya, ruwahan atau sedekah ruwah merupakan semacam seremonial untuk menyambut datanganya bulan suci Ramadhan.

Ruwahan biasanya dilakukan pada pertengahan bulan Sya'ban, sehingga sering disebut dengan Nisfu Sya'ban di mana pada bulan ini masyarakat biasanya melakukan acara bersih kubur dan ziarah ke kuburan keluarga masing masing.

Selain ziarah kubur dan Nisfu Sya'ban, ruwahan yang berasal dari kata "arwah" atau "roh" juga diikuti dengan kegiatan keagamaan berupa pengiriman do'a untuk para arwah orang yang telah meninggal dunia dengan cara dido'akan bersama dengan mengundang tetangga kanan kiri dan diakhiri dengan "makan bersama" atau pulangnya mereka diberi "nasi berkat" sebagai simbul rasa terima kasih.

Karena itu, bila ditinjau dari aspek sosiologis sedekah ruwah dapat dijadikan media mempererat jalinan silaturahmi dan menyimbolkan persaudaraan sesama Muslim.

Dalam konteks inilah, seperti dikatakan Clifford Geertz (2001:3) bahwa budaya yang telah mengakar dalam masyarakat --termasuk di dalamnya tradisi ruwahan-- merupakan bentuk simbolik, sehingga dengan adanya simbol itu manusia dapat berkomunikasi, melestarikan, dan mengembangkan pengetahuan dan sikapnya terhadap kehidupan.

Dalam ajaran Islam, bulan Sya'ban memang terdapat keutamaan, di antaranya, pada bulan ini merupakan bulan pembuka menuju bulan Ramadhan.

Dalam sebuah hadits dari Aisyah RA bahwa:

"Aku tidak pernah melihat Rasulullah menyempurnakan puasa selama sebulan penuh, kecuali pada bulan Ramadhan. Dan aku tidak pernah melihat beliau banyak melakukan puasa di luar Ramadhan kecuali pada bulan Sya'ban" (HR. Muttafaq'alaih).

Bila hadits ini ditarik dalam konteks kekinian dapat dikatakan bahwa pada bulan Sya'ban pada 1438 H ini merupakan bulan "pemanasan puasa" sebelum tibanya bulan Ramadhan 1438 H nanti.

Artinya, ibadah Ramadhan akan lebih sempurna dan lebih produktif jika didahului dengan latihan-latihan spiritual berupa amalan-amalan di bulan Sya'ban.

Karena ibadah dalam Islam pada umumnya menuntut adanya konsistensi (istiqamah) dan keberlanjutan bukan hanya dilakukan sekali saja.

Selain itu, tradisi ruwahan dengan cara mengirimkan do'a pada arwah diyakini memiliki manfaat atau fadhilah.

Dalam al-Qur'an surat al-Hasyr ayat 10, Allah berfirman;

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved