Warga Tolak Perpanjangan Izin Angkutan Batubara Melintasi PALI

Mereka beranggapan banyak truk batubara yang mencapai ribuan melintas di Kabupaten PALI sangat mengganggu aktivitas warga.

Warga Tolak Perpanjangan Izin Angkutan Batubara Melintasi PALI
TRIBUN SUMSEL/ARI WIBOWO
Ribuan truk batubara melintas ‎Jalan umum di malam hari, beberapa waktu lalu. 

"Jalan umum, bukan milik perusahaan batubara oleh karena itu, kita lihat angkutan batubara lebih banyak dari mudarat (tidak menguntungkan) dari pada manfaatnya," katanya.

Masih kata Mentri, truk batubara yang melintas di jalan umum Kabupaten PALI melebihi tonase sehingga jalan cepat rusak, selain itu juga, menghambat akses warga dan mengganggu kesehatan warga serta menimbulkan premanisme.

"Biasa kami pulang dari Pendopo ke Kecamatan Abab hanya membutuhkan waktu paling lama 45 menit, tapi sejak ribuan truk batubara melintas di PALI ke Abab butuh waktu dua jam. Sejak truk Batubara tidak boleh lagi melintas ke jalan menuju Palembang, jadi beralih lewat ke PALI untuk menuju pelabuhan batubara Desa Prambatan, Abab," jelas Mentri.

Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Angkutan Dishubkominfo PALI, Adrean Edison, ST MM membenarkan izin angkutan batubara melintas di jalan umum di khusus di Kabupaten PALI berakhir sejak tanggal 20 Oktober 2016 lalu.

Ia mengatakan, untuk perpanjangan izin tersebut maupun sebaliknya merupakan kewenangan Dishub Provinsi Sumsel.

Sedangkan Dishub kabupaten khusus yang dilintasi truk batubara yang diminta pertimbangan teknik layak atau tidaknya truk batubara melintas atau juga melebihi tonase maupun sebaliknya.

"Kalau di Dishub kabupaten, yang dilintas truk batubara, seperti Lahat, Muaraenim, dan PALI cuma di minta pertimbangan teknik oleh Dishub Provinsi, seperti syarat-syarat, mobil truk batubara melebih tonase atau tidak, untuk mengetahui itu, cuma di Lahat lebih paham muatan, di Lahat ada jembatan timbangan, muatan batubara normalnya kapasitasnya cuma 8 ton yang diperbolehkan," ujar Adrean ketika dihubungi Tribun melalui handphone.

Diakuinya dampak batubara tidak biperboleh melintas di jalan umum. Warung juga jadi sepi. Pihaknya juga tidak menghambat investor masuk ke PALI.

"Kita tidak menghambat orang ingin berinvestasi di PALI," jelas Adrean.

Editor: Tarso
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved