Palembang Banjir
Batas Kota Terparah
Hujan yang mengguyur Kota Palembang sejak Kamis malam hingga Jumat (9/11) pagi menyebabkan banjir
Penulis: admin | Editor: Bejoroy
” Saya terjebak macet hampir 6 jam untuk sampai ke Pangkalan Balai ini, mulai dari KM 7 titik macet, KM 10 simpang bandara hingga depan gerbang Sukajadi Banyuasin,” kata Iptu Noprizal Kasi Propam Polres Banyuasin kepada sripo.
Genangan air juga menenggelamkan sejumlah ruas jalan menuju komplek perumahan di wilayah ini diantaranya jalan menuju Komplek perumahan Azhar, Bumi Mas, Jadongan, Tiga Putri, Puskopad.
“Jalan-jalan banjir, sehingga anak-anak ngak bisa sekolah,”kata Indra Utama warga setempat.
Banjir ini terjadi setelah hujan deras yang terjadi semalam dimana tidak tertampung oleh selokan-selokan yang ada. “kondisi drainase buruk dan tidak berfungi sehingga banjir tidak bisa terelakkan,” katanya.
Indra berharap Pemkab Banyuasin membuat saluran drainase utama untuk mencegah terjadinya banjir di wilayah tersebut.
“Kalau hujan deras sudah pasti banjir, karena kondisi drainase yang buruk dan di beberapa titik sama sekali tidak ada saluran pembuangan,” katanya.
Pantauan sripo, luapan air yang membanjiri ruas Jalintim Palembang-Jambi ini dimulai dari km 12,5 hingga km 14 Kelurahan Sukajadi Talang Kelapa dengan ketinggian sekitar 50 cm.
Kondisi ini mengakibatkan arus kendaraan yang menuju kota Jambi dan arah sebaliknya berjalan lambat. Kemacetan kendaraan terjadi hingga Desa Mainan di Kecamatan Sembawa.
Kasatlantas Polres Banyuasin, AKP Andi Supriyadi mengatakan kemacetan di perbatasan Ja-lintim Palembang-Banyuasin lebih disebabkan karena banjir. Luapan air di tiga titik banjir mengakibatkan jalintim hanya dapat dilalui satu arah. (trs/udn)
Dampak Pias Pumpun
PALEMBANG, SRIPO — Lebatnya curah hujan secara terus menerus mengguyur Kota Palembang adanya pertemuan angin antar tropis yang dinamakan pias pumpun angin antar tropik.
“Analisis angin sebelum hujan ada pertemuan inilah yang terdapat di sekitar Sumsel yang memanjang ke arah timur Kalimantan, ke arah Sulawesi. Di daerah tersebut tekanannya rendah. Angin mengalir ke arah tekanan rendah tersebut,” ungkap Kasi Observasi dan Informasi Stasiun Meteorologi BMKG SMB II Palembang Agus Santosa menanggapi hujan lebat hingga menyebabkan banjir di beberapa titik Kota Palembang, Jumat (9/11).
Kemudian lanjut Agus, uap air di sekitar kawasan itu sangat tinggi (lembab sekali) sehingga kejadiannya seperti hujan lebat sejak Kamis (8/11) siang hingga malam harinya.
“Dari barat Pulau Sumatera ada equator atau arus Edy. Jadi analisa sederhananya pias pumpun ini membuat hujan terus menerus. Gangguan skalanya tidak hanya lokal, tetapi sudah menengah. Snoptiknya di atas 100 Km. Potensi semacam ini di bulan November sudah musimnya. Dari historisnya, puncak hujan lebat yang bisa menyebabkan banjir ini merupakan masa peralihan. Di Sumsel, khususnya Palembang bulan November-Desember curah yang tinggi. Selain itu puncak hujan tinggi saat menjelang musim kemarau, Maret-April,” jelas Agus.
Pada awal dan akhir musim penghujan ini masyarakat yang tinggal di kawasan renah sudah tahu sehingga mulai mengamankan barang-barangnya agar tidak terendam banjir. BMKG memberikan informasi ke masyarakat.
“Debit curah hujan luar biasa ada 214 mm akumulasi pantauan di SMB II selama seharian kemarin. Terus tengah malamnya 123 mm. Tapi yang paling lebat itu terjadi Kamis (8/11) sore,” kata Agus.
Agus juga mengingatkan untuk yang berada di kawasan terbuka agar mewaspadai angin kencang.
“Masih akan ada potensi angin kencang. Seperti pada masa peralihan Oktober lalu, terjadi sampai tiga kali. Diwaspadai saja terhadap bangunan yang tidak kokoh, atau bangunan yang berdiri sendiri, di sekelilingnya kosong akan berpotensi dihantam angin kencang,” tandasnya. (fiz)