• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Kamis, 30 Oktober 2014
Sriwijaya Post

Motif Abstrak Songket palembang

Rabu, 21 Desember 2011 14:49 WIB
Motif Abstrak Songket palembang
http://bulletinmetropolis.com
Ilustrasi.
Songket palembang ditahun 2012 diprediksi makin bersinar. Berbagai bentuk dan kreasi corak telah disiapkan perancang maupun produsen songket. Seperti songket yang siap didesain Tria Gunawan.
OLeh DEwi Handayani

Kepada Sripo, pemilik Tria Busana ini mengaku sudah menyiapkan bentuk berbeda, seperti penggunaan benang sutera alam berwarna  terang dan  kontras dengan motif flora dan fauna. "Tidak spt biasanya songket selama ini kita temuin dengan motif bunga kaku satu satu tabur dan corak penuh ataupun bunga rapat,"katanya. Kedepan dia akan mengembangkan motif itu seperti motif flora tak hanya gambar bunga merapat saja namun lebih diperluas seperti bunga bertangkai, memiliki daun hingga pohon secara utuh. Ini tentu teksturnya akan semakin lengkap dan dinamis.

Meski diakui Tria,  pembuatannya akan lebih rumit dan lama, tapi ini bisa menghasilkan suatu karya berbeda dari sebelumnya. Namun jika dikaitkan dengan tren secara umum, Tria memprediksi produk songket tetap akan diminati, khususnya yang menggunakan benang tembaga dengan warna-warna soft seperti batik. Ini juga menjadi ciri khas Tria yang tidak selalu menggunakan benang emas untuk pembuatan songket.
Dan songket inipun, lanjut dia,  akan dikembangkan dengan proses teknik pembatikan dan semprotan pwrnaan abstrak
"Jadi songket tembaga dengan wajah yang baru," katanya. Dan untuk memperluas pemasaran, Tria tak pernah lupa membawa hasil karya tenunnya berupa kain songket palembang yang bercita rasa lembut nan artistik. Dia boleh berbangga dengan karyanya karena berhasil mengubah pandangan orang mengenai kain tradisional yang selama ini dianggap kaku.

Saat bersinggungan dengan bangsa lain ketika bertandang ke luar negeri, songket selalu diperkenalkan. Dia tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, entah sedang liburan, mengikuti pameran, ataupun pagelaran busana di luar negeri. Hal seperti itu merupakan kesempatan dan peluang terbaik memperkenalkan sekaligus mempromosikan kekayaan budaya, utamanya produk kain tenun songket khas ranah Sriwijaya, Palembang, Sumatera Selatan.

”Jangan sampai bangsa dan negara lain yang mengembangkannya,” kata Ir Alwantriati Tundrarizmi nama lengkap Tria.

Kain tenun songket hasil sentuhan kreatif-inovatif Tria amat berbeda dengan umumnya kain tenun songket tradisional. Pasalnya, kain songket hasil tenunannya lebih lembut dan elegan. Pasalnya, dalam proses pembuatan kain tenun, dia menggunakan benang yang tidak dilapisi tajin, mengurangi rajutan, dan menggunakan benang pakan metalik yang tidak kaku. Cirikhas ini juga akan terus dipertahankan.

”Motif terbaru kain tenun songket jumputan dari bahan baku katun dan sutra,” ujarnya.

Kain tenun songket hasil kreativitas Tria ini tidak saja menjadi penanda eksistensial songket warisan budaya bangsa, khususnya Bumi Sriwijaya, tetapi jauh melampaui waktu.

Realitas itu tersirat dari lembar-lembar kain yang terharmonisasi ke dalam sentuhan batik dan bordir. Selain itu, masih banyak lagi kain tenun dengan sentuhan songket bordir, songket tembaga, songket bordir tembaga, songket jumputan, dan songket bordir jumputan, songket tembaga bingkai, dan songket tembaga awan-awan. Sebagian hasil karya kreatif-inovatif tersebut oleh Tria Gunawan sudah dipatenkan ke Departemen Kehakiman.

”Orang lain mengikuti gaya kita, kita tidak bisa marah. Alhamdulillah, sangat bermanfaat, produknya seperti produk saya. Saya pun harus lari lagi, inovasi lagi dan mencari ide-ide dari sana-sini untuk menciptakan kreasi yang baru,” katanya.

Sebetulnya, kata dia, setiap daerah memiliki keunikan dan kekayaan etnik dan budaya, misalnya saja cendera mata.
”Setiap kali saya travelling ke daerah-daerah, dalam pikiran saya apa yang dapat dikembangkan untuk tenun songket,” ungkapnya.

Ide-ide kreatif-inovatif yang melekat pada kain tenun songket ciptaannya akhirnya membawa sosok perempuan asli Palembang ini dianugerahi penghargaan upakarti oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 2006. Terakhir, penghargaan 1’st Royal Trophy Awards, ASEAN Collaboration on Sericulture Research and Development Conference, di Bangkok, Thailand, tahun 2009
”Cita-cita saya memang ingin bisa memproduksi kain tenun songket hasil kreasi dan inovasi Rumah Busana Tria dalam jumlah besar atau massal, seperti di India, Korea, dan Thailand. Tetapi, saya kesulitan alat tenun mesin (ATM) dan saya sempat mencari tahu melalui KBRI saat saya berada di India,” katanya. Kendati demikian, Tria terus mencari terobosan baru agar usahanya tetap eksis dan lebih berkembang menapaki pangsa pasar yang lebih luas—dari kalangan ibu-ibu, anak-anak, dan remaja.

”Saya sudah mencoba menggunakan alat tenun semimesin yang pengoperasionalannya ditangani oleh tiga orang tenaga dari Jawa Barat. Hasilnya lumayan bagus,” katanya.

Dia mengatakan, jika menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM), per potong kain ukuran 2,5 meter membutuhkan waktu satu sampai satu setengah bulan. Sebaliknya, bila menggunakan alat tenun semimesin hanya membutuhkan waktu 2-3 hari. ”Harganya pun lebih murah, berkisar antara Rp 1 juta-Rp- 1,5 juta,” ujarnya.

Selama ini, konsumen kain songket Rumah Busana Tria hanya kalangan atas. Kenyataan itu pula yang akhirnya membuat sang kreator dan desainernya, Tria Gunawan, berpikiran untuk mengembangkannya ke pangsa pasar kelas menengah. ”Nantinya saya juga akan mengembangkan kain tenun blongsong yang cocok untuk kalangan anak muda walaupun tidak terlalu mewah,” katanya.(Sta)
 
Wajib Dipatenkan
 
Dari 71 motif songket yang dimiliki Provinsi Sumsel, baru 22 motif yang terdaftar di Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual (Ditjen HKI) Kementerian Hukum dan HAM, sementara 49 motif lainnya belum terdaftar, "termasuk motif Berante Berakam pada seragam resmi Sriwijaya Football Club (SFC). Selain motif Berante Berakam, beberapa motif lain yang belum terdaftar yakni motif Songket Lepus Bintang Berakam, Nago Besaung, Limar Tigo Negeri Tabur Intan, Limar Tigo Negeri Cantik Manis, Lepus Bintang Penuh, Limar Penuh Mawar Berkandang, dan sejumlah motif lain," ungkap Tria.

Dia berharap  pemerintah untuk segera mendaftarkan motif-motif songket tersebut. Jika tidak segera terdaftar, dikhawatirkan negara lain akan lebih dahulu mengakui motif-motif tersebut sebagai produk kebudayaan mereka. Dia memaparkan, pada 2004, Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sumsel telah mendaftarkan 71 motif songket baik produk batik maupun tenun tradisional ke Ditjen HKI.

Namun, yang diterima hanya 22 motif. ”22 motif songket Palembang yang telah terdaftar dengan nomor C00200402293-2414-35 di antaranya motif yang terdaftar Bungo Intan, Lepus Pulis, Nampan Perak, Limar Beranti,” papar dia. Sementara Pengamat hukum Unsri Prof Dr Joni Emirzon mengharapkan pemerintah segera bergerak cepat mendaftarkan motif songket. Sebab, sangat disayangkan jika sampai motif songket tersebut sampai jatuh ke tangan orang lain dan dipatenkan. Padahal, sudah jelas motif tersebut berasal dari Palembang. (Sta)
 
Songket Palembang Termahal di Dunia
Walikota Palembang, Eddy Santana Putra menegaskan songket palembang adalah termahal di dunia, khususnya untuk songket keluaran lama. "Itu yang dicari orang, bahkan satu songket itu harganya capai 200an juta, tapi untuk songket yang dibuat tahun lama, bukan yang baru-baru, mengapa istimewa karena songket itu terbuat dari benang maupun kain-kain yang asli," kata Eddy.

Berdasarkan pengalaman dia ketika bertandang ke luar negeri, hampir semua warga luar tertarik mencari songket asli palembang. Bahkan tiap mengadakan even pun selalu laris ludes di serbu pembeli, seperti baru-baru ini pada pameran di Dubai. Disebutkan, penmkot juga terus berupaya mengembangkan kekayaan asli daerah ini terus menjadi favorit dunia international. (Sta)
Penulis: admin
Editor: Bejoroy
Sumber: Sriwijaya Post
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas