Berita OKI

Bertaruh Nasib di Kepungan Air, Petani Rawa Lebak di OKI Tanam Padi Pakai Perahu

Petani rawa lebak di SP Padang OKI, terpaksa menanam padi menggunakan perahu akibat seluruh area persawahan masih terendam air setinggi dada.

Tayang:
Penulis: Nando Davinchi | Editor: tarso romli
Sripoku.com/Nando Davinchi
GUNAKAN PERAHU - Sudarsono bersama petani lainnya melakukan tanam dengan transportasi perahu untuk mengangkut benih padi. Pemandangan tidak biasa dari hamparan sawah rawa lebak di Desa Awal Terusan, Kecamatan Sirah Pulau (Sp) Padang, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) pada Sabtu (16/5/2026) siang. 
Ringkasan Berita:
  • Petani rawa lebak di SP Padang, OKI, terpaksa menanam padi menggunakan perahu kayu akibat seluruh area persawahan masih terendam air sedalam dada.
  • Pertanian di wilayah seluas 50 hektar ini hanya bisa digarap sekali dalam setahun, mengikuti siklus surut air rawa menjelang masuknya musim kemarau.
  • Meski bermodal sabar dan berisiko tinggi, dengan modal Rp5 juta, petani mampu meraup omzet hingga Rp40 juta per hektar dari hasil penjualan gabah langsung ke pabrik.

Baca juga: Pengamat Militer Angkat Bicara Soal Anggota TNI Ditembak: Komandan Satuan Harus Bertanggung Jawab

SRIPOKU.COM, KAYUAGUNG – Hamparan sawah rawa lebak di Desa Awal Terusan, Kecamatan Sirah Pulau (SP) Padang, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), menyajikan pemandangan unik sekaligus menantang. Demi menyambung hidup, para petani setempat harus menggunakan perahu kayu kecil sebagai sarana transportasi utama untuk menanam padi di tengah kepungan air rawa yang dalam, Sabtu (16/5/2026).

Aktivitas langka ini hanya terjadi setahun sekali, di mana para petani harus ekstra sabar menunggu momen surutnya air rawa di awal musim kemarau agar lahan bisa produktif.

Sudarsono petani padi rawa lebak menuturkan bahwa penggunaan perahu kayu sangat vital untuk mendistribusikan bibit padi ke area tengah sawah. Kedalaman air yang tinggi membuat petani mustahil berjalan kaki sambil memikul beban bibit.

"Sawah di sini jenisnya rawa lebak, jadi hampir sepanjang tahun digenangi air dalam. Perahu ini kami gunakan khusus untuk mengangkut bibit padi ke tengah, lalu kami dorong perlahan sambil menanamnya satu per satu di dalam air," ujar Sudarsono di sela-sela aktivitasnya, Sabtu siang.

Sudarsono menjelaskan, bentang lahan rawa lebak di desa tersebut mencapai sekitar 50 hektar dengan karakteristik kedalaman tanah yang berbeda-beda. Akibatnya, masa tanam antar-petani tidak bisa dilakukan secara serentak.

"Ada petani yang sudah menanam sejak Maret lalu karena tanahnya lebih tinggi. Saya baru bisa menanam di bulan Mei ini, sementara pemilik lahan yang berada di dekat jalan raya kemungkinan baru bisa menanam bulan Juni mendatang karena airnya masih sangat dalam," jelasnya.

Siklus alam ini membuat para petani rawa lebak hanya bisa menanam padi satu kali dalam setahun. Lahan praktis terendam total dan tidak bisa digarap saat musim penghujan yang biasa berlangsung dari Oktober hingga Maret.

Meski memiliki risiko tinggi—seperti padi membusuk jika salah memperhitungkan pasang-surut air serta ancaman hama tikus dan walang sangit (kepi)—sektor ini terbukti menjanjikan secara ekonomi.

Sudarsono yang mengelola 1 hektar lahan secara mandiri mengaku hanya mengeluarkan modal sekitar Rp5 juta untuk keperluan pupuk dan obat-obatan. Dengan ketekunannya sejak tahun 1990, ia mampu memanen 6 hingga 7 ton gabah per tahun.

"Saat panen, gabah langsung dijual ke pabrik dengan harga Rp6.900 per kilogram. Alhamdulillah, tahun lalu bisa meraup hasil kotor hingga Rp40 juta dalam sekali panen. Hasil itu sangat mencukupi untuk kebutuhan hidup keluarga dalam setahun," pungkas Sudarsono.

Simak berita menarik lainnya di sripoku.com dengan mengklik Google News.

Baca juga: Bertaruh Nasib di Sawah Tadah Hujan, Petani Lansia di OKI Wajib Bayar Sewa Lahan Meski Gagal Panen

Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved