Pemkab Telusuri Titik-Titik Banjir di Lahat, Perbaikan Drainase Jadi Pekerjaan Rumah

Kepala Pelaksana BPBD Lahat bersama tim lintas OPD di Pemkab Lahat turun langsung menyisir titik-titik rawan banjir.

Tayang:
Penulis: Ehdi Amin | Editor: Refly Permana
Sripoku.com/dokumen pemkab lahat
RAWAN BANJIR - Tim dari Pemkab Lahat saat melakukan pengecekan di sejumlah titik rawan banjir di Lahat. Kepala Pelaksana BPBD Lahat, Ali Afandi, menyebut pengerjaan drainase paling cepat dimulai pada APBD Perubahan 2026, tergantung kondisi keuangan daerah. 
Ringkasan Berita:
  • BPBD Lahat bersama tim lintas OPD seperti Bappeda, PUPR, PRKPP, DLH, dan Dinas Sosial menyisir titik-titik rawan banjir di Lahat.
  • Pengerjaan drainase paling cepat dimulai pada APBD Perubahan 2026, tergantung kondisi keuangan daerah.
  • Banjir di Lahat bukan hanya karena hujan deras, tetapi juga minimnya daerah resapan, menjamurnya perumahan baru, drainase tersumbat endapan, dan penyempitan saluran.


SRIPOKU.COM, LAHAT – Banjir yang kembali terjadi di Lahat membuat Pemkab Lahat bergerak. 

Kepala Pelaksana BPBD Lahat, Ali Afandi, bersama tim lintas OPD turun langsung menyisir titik-titik rawan banjir.

Di antaranya dari Bappeda, PUPR, PRKPP, DLH, hingga Dinas Sosial Lahat melakukan survei di sejumlah lokasi rawan banjir

Seperti Talang Jawa Selatan hingga kawasan Perumnas II/TK Pembina Kelurahan Bandar Jaya yang selama ini dikenal sebagai langganan banjir.

Baca juga: Ratusan Warga Lahat Antusias Daftar Khitanan Massal dan Operasi Katarak Gratis

"Untuk pengerjaannya saat ini belum, sesuai kondisi, paling cepat di APBD-P Tahun 2026. Itu juga masih harus melalui proses dan tergantung kondisi keuangan daerah. Tapi paling tidak bertahap, sampai dengan tahun 2029," terang Ali Afandi, Senin (4/5/2026).

Ali mengakui, banjir bukan semata akibat hujan deras. 

Minimnya daerah resapan air, serta menjamurnya perumahan baru, membuat beban drainase semakin berat. 

Aliran air yang bertemu di satu titik, ditambah endapan, membuat sistem yang ada tak lagi mampu menampung debit air.

"Untuk banjir di wilayah Lahat, kuncinya masih pada drainase. Ada yang tersumbat endapan, ada juga karena penyempitan. Masyarakat diminta bersabar, target penanganan bertahap hingga 2029," ucapnya.

Ali Afandi menyebut, pengerjaan paling cepat baru bisa dimulai pada APBD Perubahan 2026, dan masih tergantung kondisi keuangan daerah.

Tak hanya mengandalkan infrastruktur, OPD terkait juga harus mampu mendorong peran masyarakat dalam pengelolaan sampah.

"Berdasarkan prediksi BMKG, hujan deras diperkirakan masih akan berlangsung hingga beberapa bulan ke depan. Warga diminta tidak lagi membuang sampah sembarangan yang dapat memperparah kondisi drainase. Sehingga mencegah banjir kembali terulang di Lahat," sampainya.

Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved