Berita Prabumulih

JERITAN di Ujung Pertengkaran, Secarik Kertas Ungkap Pesan Terakhir Seorang Ayah ke Anak

Pagi itu, Rabu (27/8/2025), suasana di Perumahan Griya Prabu Estate (GPE), Prabumulih, berjalan seperti biasa. Tenang dan tanpa pertanda.

Penulis: Edison Bastari | Editor: Yandi Triansyah
Dokumen Polisi
SEPUCUK SURAT - Tim Identifikasi Polres Prabumulih dan Polsek Prabumulih Timur melakukan identifikasi di lokasi ditemukannya seorang pria diduga bunuh diri di dapur rumahnya Perumahan Griya Prabu Estate (GPE) Kelurahan Gunung Ibul Timur Kecamatan Prabumulih Timur Kota Prabumulih, pada Rabu (27/8/2025) sekitar pukul 10.00 WIB 

SRIPOKU.COM, PRABUMULIH – Pagi itu, Rabu (27/8/2025), suasana di Perumahan Griya Prabu Estate (GPE), Prabumulih, berjalan seperti biasa. Tenang dan tanpa pertanda.

Namun, keheningan itu pecah sekitar pukul 10.00 WIB oleh sebuah jeritan histeris yang memilukan.

Suara itu datang dari sebuah rumah, dari seorang istri yang baru saja pulang dengan harapan memperbaiki retak dalam rumah tangganya.

Harapan Vivi Novita sirna dalam sekejap. Di sudut dapur rumahnya, pemandangan yang tak akan pernah bisa ia lupakan terpampang di depan mata.

Suaminya, Aprizal (51), ditemukan dalam kondisi tak bernyawa, tergantung di plafon dengan seutas kabel melilit lehernya.

Teriakan Vivi menjadi alarm duka bagi para tetangga. Mereka bergegas datang, memotong kabel yang menjerat leher Aprizal dengan harapan masih ada sisa napas yang bisa diselamatkan.

Namun, takdir berkata lain. Upaya pertolongan itu sia-sia, Aprizal telah pergi untuk selamanya.

Di dekat jasad Aprizal, polisi menemukan sebuah saksi bisu dari keputusasaannya, sepucuk surat yang ditulis tangan.

Bukan surat biasa, melainkan pesan terakhir yang menyayat hati, ditujukan untuk buah hati mereka.

Surat itu menjadi jendela ke dalam gejolak batin yang dirasakan Aprizal di saat-saat terakhirnya.

"Selamat tinggal dunia, untuk anak-anakku, maafkan ayah yang dak bisa menjadi ayah yang baik bagi kalian, sudah membuat kalian kecewa. Ayah dak sanggup lagi hidup. Hidup juga tidak berguna. Maafkan ayah, kejar terus cita-cita kalian, jadilah anak yang berguna." bunyi isi surat. 

Kalimat-kalimat pendek itu sarat dengan beban penyesalan, perasaan gagal, dan cinta yang tak tersampaikan dengan sempurna. 

Di tengah keputusasaannya, ia masih menyisipkan harapan dan doa agar anak-anaknya terus berjuang mengejar mimpi.

Surat itu menjadi bukti bahwa di balik kepedihan, kasih sayangnya sebagai seorang ayah tetap ada hingga napas terakhir.

Menurut informasi yang dihimpun, tragedi ini dipicu oleh persoalan rumah tangga. Beberapa hari sebelumnya, Aprizal dan Vivi terlibat pertengkaran hebat yang membuat Vivi memilih untuk meninggalkan rumah.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved