Opini
Saat Uang Pendidikanmu Berasal dari Keringat Rakyat Indonesia
Kuliah gratis bukan berarti tanpa balas. Di balik beasiswa negara, ada tetesan keringat rakyat yang menanti bakti.
Polemik viral LPDP seharusnya tidak hanya dilihat sebagai kontroversi individu, tetapi sebagai momentum refleksi bersama. Bagi penerima beasiswa, ini menjadi pengingat untuk terus menjaga integritas dan kontribusi.
Bagi pemerintah, ini menjadi bahan evaluasi dalam memperkuat seleksi berbasis integritas dan sistem monitoring alumni. Bagi masyarakat, ini menjadi ruang untuk mengawal penggunaan dana publik secara lebih bijak dan objektif.
Pada akhirnya, pesan yang perlu diingat sebenarnya sangat sederhana: saat uang pendidikan berasal dari keringat rakyat Indonesia, maka ilmu yang diperoleh seharusnya kembali untuk rakyat Indonesia. Ini bukan berarti semua harus bekerja di dalam negeri, bukan pula berarti tidak boleh memiliki perspektif global.
Namun setidaknya ada kesadaran moral bahwa di balik biaya kuliah, biaya hidup, dan berbagai fasilitas yang ditanggung negara, ada jutaan rakyat yang berharap pendidikan itu akan kembali dalam bentuk manfaat nyata.
Pendidikan yang dibiayai negara bukan sekadar privilese. Ia adalah amanah. Dan amanah, pada hakikatnya, bukan untuk dibanggakan semata, tetapi untuk dijaga, dihormati, dan dipertanggungjawabkan melalui kontribusi nyata bagi bangsa. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/Isni.jpg)