Jelajah Kopi Sumsel
Program Jelajah Kopi 'Bedah' Alasan Kopi Sumsel Bisa Mendunia, dari Diproduksi Hingga Diekspor
Lewat peran program Jelajah Kopi Sumsel, terkuak alasan mengapa biji kopi Sumsel bisa menjangkau penikmat kopi dari berbagai belahan negara.
Penulis: Hartati | Editor: Refly Permana
Meskipun produksi sudah menempati peringkat pertama secara nasional, namun upaya peningkatan produktivitas, peningkatan kualitas, serta penambahan nilai tambah bagi kopi Sumsel harus terus dilakukan.
Dengan demikian, Sumsel mampu tetap kompetitif, baik di pasar nasional maupun di pasar internasional.
"Melalui Jelajah Kopi Sumsel, kami bersama seluruh pemangku kepentingan menyampaikan harapan yang sama agar Kopi Sumsel semakin mendunia, dan para petani serta seluruh pihak yang terlibat dalam rantai pasok dan rantai pemasaran semakin sejahtera," tutup Yudie.
Baca juga: Kopi Robusta OKU Beraroma Cokelat yang Sempat Dikira Kopi Luwak
Rutin Ekspor Kopi ke Negara Tetangga
Sementara itu, di tempat yang sama, Arifin Susanto selaku Kepala OJK Sumsel mengatakan, OJK mencatat berkembangnya ekosistem keuangan inklusif (EKI) untuk komunitas kopi.
Melalui pendekatan dari hulu sampai hilir, Sumsel berhasil melakukan ekspor perdana 14 kontainer kopi Sumsel ke Malaysia dan Australia dengan nilai mencapai Rp 374 miliar.
Ekspor ini berkelanjutan hingga Agustus 2025, sudah dilakukan ekspor yang ke 10 kalinya dengan nilai ekspor kopi sebesar Rp 10,91 miliar.
“Keberhasilan ini bukan hanya tentang ekspor, tapi tentang bagaimana petani kopi kita mendapatkan akses pembiayaan, asuransi mikro, pelatihan, dan pendampingan yang membuat mereka naik kelas,” kata Arifin.
Pelaku usaha eksportir juga pengusaha mendukung upaya mempromosikan Kopi Sumsel mendunia agar terus dikenal luas.
Namun untuk mewujudkan itu ternyata ada tantangan tersendiri yakni mulai dari beragam sekali jenis kopi dan kekhasnya sehingga sulit menentukan origin kopi Sumsel juga diperlukan upaya regenerasi petani kopi agar diminati generasi muda.
Sebab anak muda saat ini dinilai masih lebih bangga jadi pekerja kantoran bahkan pekerja tambang daripada sebagai petani kopi.
Padahal potensi bisnis kopi juga tidak kalah menjanjikan dengan sektor pekerjaan lainnya.
Baca juga: BEM Unsri Hadirkan Teknologi Pengering Kopi dan Olah Limbah jadi Pupuk di Desa Pajar Bulan Lahat
Kondisi Terkini Tanaman Kopi di Sumsel
Gubernur Sumsel Herman Deru, melalui Kepala Dinas Koperasi dan UKM Sumsel, Amiruddin MSi mengatakan, kopi telah menjadi kebanggaan yang mengharumkan nama Sumsel, bahkan menembus pasar global.
Namun, untuk mempertahankan dan meningkatkan prestasi ini, harus terus membuka diri terhadap inovasi, mengedepankan inklusivitas, memperkuat kolaborasi, serta meningkatkan kapasitas seluruh pelaku di sektor perkopian.
Dia menambahkan dari total luas perkebunan kopi di Indonesia yang mencapai 1.294.378 hektare, luas area perkebunan kopi di Sumatera Selatan mencapai 267.245 hektare, atau sekitar 21 persen dari total area kopi nasional.
Kopi Robusta masih menjadi komoditas dominan, dan saat ini telah mulai dikembangkan pula kopi Arabika seluas kurang lebih 100 hektare di Kabupaten Muara Enim dan 22 hektare di Kota Pagar Alam.
| Melihat Ondernemeng Mesin Kopi Peninggalan Belanda di OKUS, Bukti Kopi Sumsel Dicintai Sejak Dulu |
|
|---|
| Di Balik Aroma Kopi Empat Lawang: Kisah Febriansyah, Sang Tunggu Agan yang Hidup di Ladang Kopi |
|
|---|
| Kopi Raden Kuning Berpotensi Mendunia, Pagar Alam Rencanakan Produksi Kopi Arabika Yellow |
|
|---|
| Mengenal Tunggu Tubang, Tradisi Adat yang Menjaga Warisan Kopi Arabika Semendo Sumsel |
|
|---|
| Herman Deru Harapkan Kopi Sumsel Jadi Kebanggaan dan Mendunia, Lepas Tim Jelajah Kopi Sumsel |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/jelajahkopisumselsukses.jpg)