Kopi Sumsel
Kopi Robusta OKU Beraroma Cokelat yang Sempat Dikira Kopi Luwak
Kopi Robusta dari Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan, sedang mencuri perhatian
Penulis: Hartati | Editor: Yandi Triansyah
Ringkasan Berita:
- Kopi Robusta dari Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan, sedang mencuri perhatian.
- Kopi Robusta OKU memiliki cita rasa dan aroma unik yang dimilikinya. Bahkan sempat dikira Kopi Luwak.
- Kopi asal OKU ini memiliki sensasi manis dan aroma harum cokelat yang kuat.
SRIPOKU.COM, PALEMBANG – Kopi Robusta dari Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan, sedang mencuri perhatian berkat cita rasa dan aroma unik yang dimilikinya. Bahkan sempat dikira Kopi Luwak.
Berbeda dari robusta pada umumnya, kopi asal OKU ini memiliki sensasi manis dan aroma harum cokelat yang kuat.
Keunikan ini bahkan pernah membuat para pengusaha kopi di Jakarta terkejut, sampai-sampai menduga kopi tersebut adalah Kopi Luwak.
Bupati OKU, H Teddy Meilwansyah, mengungkapkan bahwa keunikan inilah yang menjadi nilai jual utama kopi Robusta OKU.
Baca juga: Pameran Patung Microplastics Everywhere di Kedai Kopi Rumah Tumbuh, Cermin Kesadaran Warga Palembang
"Iya, saat dikenalkan ke Jakarta dikira Luwak karena kaget dengan cita rasanya, jadi itulah keunikannya," kata Teddy di acara talkshow seputar Kopi Sumsel dan Potensi Pengembangannya di kegiatan Sustainable Agricultural and Plantation Breakthroug di Ballroom OJK Sumsel, Jumat (5/12/2025).
Cita rasa khas yang membedakan Robusta OKU ini didukung oleh faktor alam yang sangat ideal.
Wilayah OKU memiliki ketinggian antara 700 hingga 900 meter di atas permukaan laut, kondisi yang sangat cocok untuk budidaya kopi jenis robusta berkualitas tinggi.
Karakteristik unik ini, menurut Bupati, menjamin pemasaran kopi Robusta OKU tidak akan terlalu sulit, sehingga Pemerintah Kabupaten akan terus mendukung pengembangannya.
Dukungan ini membuahkan hasil, di mana produksi kopi Robusta OKU terus meningkat dari tahun ke tahun, dengan capaian produksi saat ini mencapai 2.671 ton, meningkat dari tahun sebelumnya.
Selain itu, saat ini OKU mulai fokus mengembangkan kopi Liberika, yang juga dinilai cocok ditanam di dataran rendah, termasuk di wilayah rawa maupun lahan gambut.
Pengembangan kopi Liberika dikembangkan dengan teknik tumbang sari yakni ditanam di sela pohon karet sehingga saat menunggu pohon karet besar dan menghasilkan, kopi ini juga sudah bisa dipanen.
| Harga Kopi di Empat Lawang Stabil di Rp 60 Ribu per Kilogram |
|
|---|
| Talkshow Jelajah Kopi Sumsel di OJK, Kopi Sumsel Terjual Rp 2 Juta Per Kilogram di Australia |
|
|---|
| Kapolda Dukung Kopi Asli Sumsel, Seruput Sambil Menikmati Suasana Teras Danau Brimob |
|
|---|
| Jelang Puncak Panen, Petani Kopi Pagar Alam Menjerit, Harga Anjlok Drastis |
|
|---|
| Mata Pelajaran Kopi Jadi Kurikulum SMKN 1 Jarai, Bisa Bisnis Lewat Pendidikan Kopi Sejak Dini |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/Talkshow-seputar-kopi-Sumsel.jpg)