Harga Karet di Sumsel
Rupiah Melemah, Harga Karet di Sumsel Makin Perkasa Nyaris Tembus Rp42 Ribu per Kilogram
Harga karet KKK 100 persen di Sumsel naik menjadi Rp41.819/kg pada Kamis (4/6/2026), di saat yang sama nilai tukar rupiah atas Dolar AS melemah.
Penulis: Hartati | Editor: tarso romli
Ringkasan Berita:
- Harga karet KKK 100 persen di Sumsel naik menjadi Rp41.819/kg pada Kamis (4/6/2026), dipicu harga global SGX-Sicom 234,4 sen AS dan melemahnya Rupiah ke Rp17.841 per Dolar AS.
- Sekjen APKARINDO Sumsel, Rudi Arpian, menilai tren positif sejak awal pekan ini membuka peluang harga menembus Rp42.000/kg.
- Kendati harga naik, petani di Gandus mengeluhkan penurunan produksi getah akibat masuknya musim kemarau serta faktor usia pohon karet yang tua dan kurang produktif.
Baca juga: Menjelang Iduladha 1447 H, Harga Karet Mingguan di Tingkat Petani OKI Tembus Rp18.000 per Kilogram
SRIPOKU.COM, PALEMBANG – Harga komoditas karet di Sumatera Selatan kembali menunjukkan tren positif pada pertengahan pekan ini. Kombinasi antara penguatan harga di pasar internasional dan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mendongkrak harga karet dengan Kadar Karet Kering (KKK) 100 persen hingga nyaris menyentuh angka Rp42.000 per kilogram.
Berdasarkan data perdagangan pada Kamis (4/6/2026), harga karet acuan SGX-Sicom tercatat berada di level 234,4 sen AS per kilogram.
Di saat yang sama, nilai tukar rupiah bertengger di posisi Rp17.841 per dolar AS.
Perpaduan faktor tersebut membuat harga karet KKK 100 persen hari ini bertengger di angka Rp41.819 per kilogram.
Angka ini mengalami kenaikan sebesar Rp139 per kilogram jika dibandingkan dengan perdagangan hari sebelumnya yang berada di level Rp41.680 per kilogram.
Sekretaris Jenderal APKARINDO Sumatera Selatan, Rudi Arpian, mengatakan tren penguatan harga ini membuka peluang besar bagi komoditas karet untuk mencapai level tertinggi baru dalam waktu dekat.
Bagi daerah eksportir seperti Sumsel, melemahnya rupiah justru menjadi berkah karena nilai konversi ke dalam mata uang domestik menjadi lebih besar.
“Pasar karet masih menunjukkan sentimen positif. Selain didukung harga internasional yang stabil, pelemahan rupiah memberikan efek langsung terhadap peningkatan harga karet dalam negeri,” ujar Rudi saat dikonfirmasi, Kamis (4/6/2026).
Rudi menambahkan, penguatan yang terjadi secara bertahap sejak awal pekan menunjukkan bahwa pasar berada dalam jalur yang tepat.
Jika momentum ini terjaga, karet berpotensi kembali menjadi komoditas perkebunan unggulan yang berkontribusi signifikan terhadap pemulihan ekonomi masyarakat Sumatera Selatan setelah sempat menghadapi fluktuasi tajam selama beberapa tahun terakhir.
Baca juga: Harga Karet Mingguan di OKI Tembus Rp17.000 per Kilogram, Tertinggi Sepanjang Tahun 2026
Harga Naik, Produksi Justru Menyusut
Meskipun disambut dengan rasa syukur oleh para petani di lapangan, kenaikan harga acuan ini belum sepenuhnya memberikan keuntungan maksimal.
Pasalnya, harga yang diterima langsung oleh petani di tingkat pengepul lokal biasanya berkisar 40 hingga 50 persen dari harga KKK 100 persen yang berlaku di pabrik pengolahan.
Kondisi tersebut diperparah dengan penurunan volume produksi getah akibat faktor cuaca dan usia tanaman.
| Harga Karet di Sumsel Tembus Rp36.459 Per Kilogram, Petani Keluhkan Penurunan Produksi Getah |
|
|---|
| Harga Karet di OKU Mengalami Fluktuasi Baik di Hulu Maupun Hilir, Produksi Turun hingga 50 Persen |
|
|---|
| Update Harga Karet di OKU, Meski Membaik tidak Membuat Petani Sumringah Gara-gara Musim Kemarau |
|
|---|
| 3 Hari Berturut-turut Harga Karet di Sumsel Melesat Naik, Tembus Rp 22 Per Kilo |
|
|---|
| Harga Karet di Sumsel 14 Januari, Ada Pengaruh dari Lockdown di Sejumlah Negara |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/Jual-karet-ke-pengepul-1.jpg)