Berita Banyuasin

Inovasi Pengrajin Gerabah di Banyuasin Demi Bertahan Dari Gerusan Zaman

Pengerajin Gerabah yang ada di Jalintim Palembang-Betung KM 16 Kecamatan Talang Kelapa Banyuasin terus berinovasi agar tidak hilang tergerus zaman.

Tayang:
Penulis: Ardiansyah | Editor: adi kurniawan
Ardiansyah
Pengerajin Gerabah yang ada di Jalintim Palembang-Betung KM 16 Kecamatan Talang Kelapa Banyuasin terus berinovasi agar tidak hilang tergerus zaman. 

SRIPOKU. COM, BANYUASIN - Di era kemajuan zaman saat ini, pengerajin gerabah yang ada di Kabupaten Banyuasin terus berinovasi agar tidak hilang tergerus zaman.

Dedy, pengerajin gerabah Banyuasin mengaku saat ini dirinya sebagai penerus ketiga perajin gerabah terus berinovasi untuk pembuatan gerabah yang ada ditempatnya.

Selain membuat celengan, Dedy berupaya untuk mengikuti pangsa pasar atau pesanan konsumen. Sehingga, gerabah yang dihasilkan juga tidak ketinggalan zaman. 

"Saat ini, kami memilih untuk membuat berdasarkan pesanan seperti tempat penampungan air kamar mandi baik berukuran besar maupun kecil. Karena, inilah yang paling diminati sekarang ini," katanya ketika ditemui di tempat pembuatan gerabah Banyuasin Jalintim Palembang-Betung KM 16 Kecamatan Talang Kelapa Banyuasin, Selasa (7/1/2025).

Lanjutnya, bila tidak mengikuti keinginan pangsa pasar, maka lambat laun gerabah juga akan ditinggalkan.

Namun, dengan mengikuti keinginan pasar, masih banyak pesanan yang datang di tempatnya.

Akan tetapi, untuk membuat gerabah berbentuk tempat besar menggunakan bahan bakuntanah liat memang membutuhkan waktu yang cukup lama.

Karena, bentuknya yang cukup besar sehingga harus melalui beberapa proses pembuatan.

"Kalau ukuran dengan diameter 45, itu harus dua kali. Pertama buat bawahnya dahulu, dikeringkan sebentar baru di sambung lagi hingga selesai. Kalau dibuat sekaligus, maka tidak akan jadi dan bentuknya akan rusak," ungkap Dedy. 

Dari sisi bahan baku yakni tanah liat, memang masih mudah untuk di peroleh.

Hanya saja, untuk bahan baku tanah liat juga sudah mengalami kenaikan. Sehingga, mau tidak mau gerabah yang dihasilkan juga mengalami kenaikan.

Ditambah lagi, dengan kondisi cuaca yang tidak mendukung saat ini, pembuatan gerabah ukuran besar juga membutuhkan waktu yang cukup lama dalam proses pengeringan. 

"Buat gerabah ukuran besar, dalam sehari hanya bisa mempeproleh tujuh saja. Beda dengan ukuran kecil atau sedang, bisa sampai 300 sekali produksi," katanya. 

Di tahun 2025 ini, Dedy mengaku pesanan terkait gerabah ukuran besar mulai mengalami peningkatan.

Namun, karena proses pembuatan dari awal yang memang harus dilakukan secara manual, sehingga pengerjaan akan lebih lama.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved