Opini

Opini: Penyakit pada Tanaman Duku

Duku Komering biasa dikenal dengan Masyarakat Indonesia sebagai buah khas dari provinsi Sumatera Selatan.

Tayang:
Editor: pairat
Handout/Ayu Safitri
Opini: Penyakit Pada Tanaman Duku 

Dikutip dari Muslim A, Pratama R, Suwandi S, Hamidson H, 2022, bahwa penyakit layu mendadak pada tanaman duku (L. domesticum) ini disebabkan oleh Ceratocystis fimbriata yang telah menyebar luas ke sentra-sentra produksi duku di berbagai kabupaten di Sumatera Selatan.

Ceratocystis ini diketahui bersifat patogen pada semua tanaman uji hutan termasuk tanaman asli lahan basah, sehingga menimbulkan ancaman serius terhadap keanekaragaman hayati Indonesia.

Bagaimana gejala dan cara penyebarannya?

Penyakit ini disebabkan oleh jamur Ceratocystis fimbriata yang menyerang tanaman melalui luka atau celah pada batang.

Gejala awal penyakit ini adalah munculnya bercak-bercak kecil berwarna coklat atau hitam pada batang, yang kemudian berkembang menjadi benjolan atau tumor yang menyebabkan kematian tanaman.

Selain itu, tanaman yang terserang juga dapat menunjukkan gejala lain seperti daun menguning, ranting kering, dan buah yang tidak berkembang dengan normal.

Penyakit kanker batang Ceratocystis disebabkan oleh jamur yang masuk ke dalam jaringan tanaman melalui luka atau celah pada batang.

Penyebaran penyakit ini dapat terjadi melalui beberapa cara, seperti kontak langsung antara tanaman yang sakit dan sehat, atau melalui vektor serangga seperti kumbang dan kutu.

Lalu bagaimana dengan faktor-faktor yang mempengaruhi penyakit ini? Banyak faktor yang dapat mempengaruhi seperti kelembaban tinggi, suhu yang optimal, dan kurangnya perawatan tanaman juga dapat mempercepat penyebaran penyakit ini.

Penggunaan bibit tanaman yang tidak sehat dan kurangnya pengawasan penyakit juga berkontribusi pada penyebaran penyakit.

Selain itu, tanaman yang lemah atau stres juga lebih rentan terhadap serangan penyakit ini.

Permasalahan yang Ditimbulkan?

Penyakit kanker batang Ceratocystis pada tanaman duku dapat menyebabkan kerugian yang signifikan bagi petani, karena dapat mengurangi jumlah produksi buah dan memperpendek umur tanaman.

Selain itu, penyakit ini juga dapat menurunkan kualitas buah dan meningkatkan biaya produksi.

Sedangkan dampak sosial yang ditimbulkan dengan adanya pengurangan pendapatan petani dan pekerjaan, serta berpotensi mempengaruhi ketahanan pangan lokal.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved