Opini
Opini: Penyakit pada Tanaman Duku
Duku Komering biasa dikenal dengan Masyarakat Indonesia sebagai buah khas dari provinsi Sumatera Selatan.
Penyakit pada Tanaman Duku
Oleh: Ayu Safitri, S.Si., M.Si
(Dosen Fakultas MIPA Biologi, Universitas Sriwijaya)
SRIPOKU.COM - Duku Komering biasa dikenal dengan Masyarakat Indonesia sebagai buah khas dari provinsi Sumatera Selatan. Bagi masyarakat Sumatera Selatan tentunya tidak asing lagi dengan buah-buahan yang satu ini.
Dikutip dari buku “Ekologi Duku Komering [2018]” karya Ari Sugiarto dan Hanifa Marisa disebutkan bahwa rasanya yang khas membuatnya dianggap berbeda dengan buah duku dari daerah lainnya.
Duku termasuk buah-buahan musiman. Di Sumatera Selatan, buah duku ini dapat dengan mudah kita ditemukan pada saat musim panennya.
Berkebun Duku merupakan salah satu penghasilan utama bagi masyarakat di Sumatera Selatan khususnya daerah Komering selain padi.
Tanaman duku memiliki banyak sekali manfaat selain buahnya yang manis, tanaman duku ini memiliki manfaat sebagai bahan obat tradisional, kayu bakar, pendorong ekonomi wilayah, peran terhadap lingkungan dan masih banyak hal yang perlu dikaji selanjutnya.
Hal ini juga selaras dengan ancaman kelangsungan hidup duku, contohnya pemanasan global, serangan serangga, serta serangan penyakit tanaman.
Penyakit pada Tanman Duku?
Serangan penyakit tanaman pada tanaman duku makin banyak ditemui di Sumatera Selatan, hal ini membuat para ilmuwan maupun dinas terkait menggali penyebab penyakit ini dan mencari Solusi dari permasalahan tersebut.
Menurut penelitian yang telah dilakukan oleh Dosen Universitas Sriwijaya, Serangan penyakit pada tanaman duku ini salah satunya disebabkan oleh jamur Ceratocystis yang menyebabkan penyakit layu atau kanker batang pada tanaman duku.
Penyakit kanker batang pada tanaman duku yang disebabkan oleh jamur Ceratocystis merupakan salah satu penyakit yang paling merusak dan berdampak signifikan pada produksi buah duku di Sumatera Selatan.
Serangan Ceratocystis ini dilaporkan pertama kali terjadi di Kabupaten Ogan Komering Ulu pada tahun 2014. Pada tahun selanjutnya penyakit ini telah dilaporkan menyebar di beberapa kabupaten lainnya di Sumatera Selatan seperti Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan, Musi Banyuasin, Ogan Komering Ilir, Muara Enim, Musi Rawas, dan Musi Rawas Utara.
Baru-baru ini dilaporkan serangan baru penyakit ini juga terjadi di daerah Kabupaten Muara Enim pada empat desa yaitu Muara Gula Lama, Pinang Belarik, Ujan Mas Baru, dan Ujan Mas Lama (Firmanto, Muslim, A. dan Pratama, 2023). Penyakit ini menyebar melalui kontak langsung antara tanaman yang sakit dan sehat, atau melalui vektor serangga seperti kumbang dan kutu.
| Memahami Mewujudkan Kodifikasi dan Univikasi Hukum Pidana. |
|
|---|
| Keberhasilan bukan Kecepatan, Melainkan Konsistensi dalam Berproses, Sebuah Renungan di Awal 2026 |
|
|---|
| OPINI: Stres, Kopi, Begadang: Tiga Kebiasaan Kecil yang Diam-diam Merusak Jantungmu |
|
|---|
| OPINI: Diskon Listrik Masih Dinanti Masyarakat Sumsel |
|
|---|
| Langkah Menuju Keadilan Pajak untuk Pedagang Online dan Offline |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/Opini-Penyakit-Pada-Tanaman-Duku.jpg)