Mimbar Jumat
Mimbar Jumat: Memaknai Agama: Ritual atau Spiritual?
Menjalankan agama harus melakukan ritual dan merasakan spiritualitas sekaligus.
Oleh: Abdurrahmansyah
(Dosen Pascasarjana UIN Raden Fatah Palembang)
SRIPOKU.COM -- SETIAP ajaran agama manapun memiliki dimensi ritual dan spiritual sekaligus. Ia seperti dua sisi mata uang. Sisi yang satu bermuatan aspek ritual dan sisi yang lain bernuansa spiritual.
Menghilangkan salah satu aspek dari keduanya hanya akan membuat penganut agama kehilangan keutuhan dalam beragama. Aspek ritual menyangkut aspek-aspek formalitas beragama seperti pelaksanaan ibadah dan acara-acara keagamaan tertentu yang bernilai suci karena merupakan bagian dari syariat. Praktik ritual keagamaan sarat dengan simbol-simbol yang memiliki makna-makna tertentu yang cenderung dianggap sudah baku dan tidak bisa diubah-ubah sesuai tuntunan agama. Contoh pelaksanaan ritual agama dalam Islam seperti ibadah shalat, haji, puasa, dan seterusnya. Adapun aspek spiritual merupakan ruh dan jiwa dari sikap beragamaan (religiousity). Jika ritual lebih pada sisi zahir, maka spiritual adalah sisi batin (esoteric) dari agama.
Menjalankan agama harus melakukan ritual dan merasakan spiritualitas sekaligus. Karena itu, sangat tidak bisa diterima pandangan sebagian orang yang mengatakan: Spirituality, Yes ! Religion, No !. Dalam perspektif Islam, jika beragama hanya terfokus dan didominasi oleh ritual zahir saja, maka pelakunya terjebak pada status fasiq.
Sebaliknya hanya mementingkan rasa spiritual secara batini tanpa melakukan ritual zahir secara syari’at, maka akan terjebak pada perilaku zindiq. Secara bahasa, zindiq sendiri berarti kotoran yang membahayakan. Sementara arti zindiq secara istilah adalah golongan atau orang yang membuat penyimpangan dalam menafsirkannash-nashal-Quran dan Hadits.
Jangan lupa subscribe, like dan share channel Youtube Sripokutv di bawah ini:
Sering pula istilah zindiq diartikan untuk orang-orang yang pada zahirnya Islam, tetapi pada batinnya kufur. Sifat fasiq diidentikkan dengan sikap orang beragama secara formalitas, namun melupakan hakikat beragama. Orang fasiq terlihat paham agama namun kosong dari muatan batiniah. Allah mengumpamakan orang fasiq seperti orang yang lupa diri, tidak mengenal hakikat diri, dan jauh dari merasakan kehadiran Allah di dalam hatinya (Q.S. Al-Hasyr: 19).
Menuju Kesatuan Ritual dan Spiritual dalam Beragama
Menjadi penganut agama dituntut untuk memiliki keutuhan dalam menjalankannya. Keutuhan dalam beragama bermakna menjalankan syari’at agama dan sekaligus menghayati substansi beragama. Tuhan menghendaki manusia untuk menjalankan agama secara holistik dan utuh (udkhuluu fii silmi kaffah). Masuklah ke dalam Islam secara utuh, zahir batin sekaligus.
Aspek ritual agama yang ditandai dengan ucapan, gerakan, dan perilaku badaniah (jasadiyah) merupakan bentuk ketundukan fisik terhadap perintah Tuhan. Sedangkan aspek spiritual merupakan aktivitas batin (ruhaniyah) yang terus-menerus menyadari, merasakan, dan selalu terhubung dengan Dzat Yang Maha Batin, yakni Allah. Kesadaran yang tiada akhir untuk mengingat dan merasakan kehadiran Tuhan dalam setiap tarikan nafas merupakan sikap batin dan inti spiritualitas beragama.
Kaum muslim melalui ajaran shalat pada dasarnya diajarkan untuk tunduk kepada Tuhan secara zahir dengan bacaan, gerakan, waktu, dan urutan tata tertib tertentu secara syariat. Namun dalam waktu yang sama Allah menegaskan bahwa praktik shalat dengan berbagai bacaan dan gerakan zahir itu adalah untuk mengingat Allah secara batin (Q.S. Thaha: 14). Setelah melaksanakan shalat secara formal, maka seseorang muslim tetap harus mengingat (zikir) kepada Allah dalam kondisi berdiri, duduk, dan berbaring (Q.S. an-Nisa’: 103). Bahkan Allah SWT menegaskan bahwa setiap aktivitas hidup seorang muslim senantiasa berzikir dan mengingat Allah dengan cara senantiasa menghubungkan apapun yang dilihat, dikerjakan, dan ditemui dalam aktivitasnya kepada Allah (Q.S. Ali Imran: 191). Bahkan manusia dituntut oleh Allah untuk mampu “bertemu Tuhan” dari setiap apapun yang dilihatnnya (Q.S. al-Baqarah: 115). Inilah posisi manusia yang telah mencapai spiritualitas beragama.
Jangan lupa juga subscribe, like dan share channel Instagram Sriwijayapost di bawah ini:

Ketika seseorang melihat eksistensi Tuhan pada setiap apapun yang dilihatnya secara zahir maka pada saat itu sesungguhnya dia sudah memiliki spiritualitas dalam pandangan batinnya. Di sinilah kesatuan (ahadiyah) antara aspek zahir dan batin itu termanifestasi dalam kesatuan pandangan manusia beragama. Jika setiap manusia menyadari bahwa setiap apapun yang dilihat dan ditemuinya “terwujud” eksistensi Tuhan, maka akan sulit bagi seseorang itu untuk berbuat kerusakan (fasad). Semua perilaku destruktif seperti merusak lingkungan, perilaku korup, zalim, dan tidak adil dapat dipastikan dilakukan oleh orang yang lalai hatinya karena tidak mampu melihat eksistensi Tuhan dalam kehidupannya.
Seorang muslim yang tercerahkan akan mampu mengejawantahkan ibadah ritual dalam setiap perilaku kesehariannya. Ciri-ciri seseorang yang telah mampu mencapai kesatuan ritual dan spiritual dalam kehidupan keberagamaannya adalah selalu terlihat arif bijaksana, tidak mudah menyalahkan, menghindari konflik, dan senantiasa mengupayakan kedamaian (salam). Sebaliknya, karakteristik seseorang yang masih farsial (tidak utuh) dalam memahami agama dapat dilihat dari sikapnya yang selalu membuat perpecahan, mudah menyalahkan orang lain, tidak bijak, dan biasanya sering menimbulkan konflik dan problem sosial.
Pengajaran agama semestinya diajarkan secara utuh, sehingga tidak cukup hanya mementingkan sisi formalitas secara fisik sesuai tuntutan syariat namun harus dilanjutkan dengan membiasakan diri mengingat Tuhan. Di sinilah urgensi pengajaran dan latihan berzikir sebagai sarana membersihkan hati sehingga mampu menemui “wajah” Allah dalam setiap apapun yang dipandangnya. Hati (qalbu) yang terlatih mengingat Allah terus menerus akan mencapai tingkatan hati yang menyelamatkan (qalbun salim). Kondisi hati manusia yang senantiasa tidak melepaskan Allah dalam setiap pandangan matanya dan selalu menyebutkan asma Allah dalam setiap tarikan nafasnya akan sangat memungkinkan untuk mendorongnya menjadi rahmat bagi lingkungannya (rahmatal lil ‘alamin).
Jangan lupa Like fanspage Facebook Sriwijaya Post di bawah ini:

:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/Abdurrahmansyah3-Abdurrahmansyah2-Abdurrahmansyah1-Abdurrahmansyah.jpg)