Mimbar Jumat
Tujuan Penciptaan Manusia dan Tujuan Hidup Seorang Muslim
Ketika seorang muadzin menyerukan hayya ‘alal shalaah dan hayya ‘alal falaah, maka sesungguhnya dia mengajak manusia menunaikan kewajibannya
Oleh: Dr Maftukhatusolikhah, MAg
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Raden Fatah Palembang
SETIAP hari dalam lima waktu, kita sering mendengar panggilan adzan dikumandangkan. Bacaan adzan yang terdiri dari tujuh kalimat yaitu: Allahu Akbar, Asyhadu Alla Illaha Illallah, Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah, Hayya ‘Alash Shalaah, Hayya ‘Alal Falaah, Allahu Akbar, dan Laa Ilaaha Illallah, disunnahkan untuk dijawab oleh pendengarnya dengan bacaan yang sama, kecuali lafaz Hayya ‘Alash Shalaah, Hayya ‘Alal Falaah dijawab dengan kalimat yang berbeda, yaitu Laa haula wa laa quwwata illa billaah, yang artinya “Tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah.”
Terkait lafaz Hayya ‘Alash Shalaah mungkin hampir semua orang bisa memperkirakan maknanya yaitu ajakan untuk segera menunaikan Shalat, karena kumandang adzan secara khusus merupakan pengingat tibanya waktu Shalat Wajib lima waktu. Tetapi lafaz Hayya ‘Alal Falaah belum tentu semua kita yang mendengarnya sedemikian sering memahami maknanya. Berangkat dari kedua lafaz yang dikumandangkan berurutan dan tidak terpisah satu sama lain tersebut, tulisan ini mencoba membahas lebih dalam tentang tujuan penciptaan manusia dan tujuan hidupnya.
Tujuan Penciptaan Manusia
World-view Islam berdasarkan pada 3 konsep fundamental, yaitu: tauhid, khilafah, dan ‘adalah mendasari pemikiran tentang tujuan penciptaan maupun tujuan (akhir) hidup manusia, karena dalam kerangka sistem yang diderivasi dari konsep tauhid tersebut, manusia menerima pembebanan kewajiban keagamaan yang diturunkan dari ketetapan ilahi.
Tujuan penciptaan manusia yang utama adalah untuk beribadah kepada Allah SWT. Dalam QS Adz Dzariyat ayat 56 Allah SWT berfirman yang artinya: “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” Maka sudah sangat jelas bahwa tugas manusia adalah untuk mengabdi atau beribadah.
Jangan lupa subscribe, like dan share channel Youtube Sripokutv di bawah ini:
Dalam hal kata ibadah dapat dimaknai hablumminallah dan hablumminannas. Sehingga dalam kata Ibadah tersebut bukan hanya menjalankan Ibadah mahdhah (Ibadah tertentu seperti Shalat, zakat, puasa, dan haji) yang sifatnya hablumminallah dan wujud ketakwaan manusia kepada Allah, melainkan juga bentuk-bentuk ibadah sosial yang sifatnya hablumminannas atau hubungan manusia dengan sesamanya dalam segala lapangan kehidupan karena fitrah manusia sebagai makhluk dunia yang bersifat sosial. Karena segala perbuatan manusia dapat dimaknai ibadah sepanjang dilakukan karena Allah serta sesuai dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
Kedua hal tersebut pada dasarnya tidak boleh ditinggalkan. Dengan demikian seyogyanya orang tidak melulu menjalankan Ibadah mahdhah saja dengan mengabaikan hal lainnya hubungan sesame manusia termasuk mencari nafkah untuk diri dan keluarganya. Apalagi sebaliknya, atau meninggalkan ibadah mahdhah walaupun dia sangat baik dalam urusan hablumminannas.
Dari lafaz Hayya ‘Alash Shalaah dalam azan yang disunnahkan untuk dijawab dengan bacaan Laa haula wa laa quwwata illa billaah, pada dasarnya kita diingatkan bahwa keberadaan kita di muka bumi ini semata karena Allah yang menciptakan kita, oleh karenanya manusia harus menjalankan amal ibadah sesuai perintahnya. Shalat merupakan Rukun Islam yang kedua setelah Syahadat. Shalat juga merupakan amal atau perkara yang akan dihisab pertama kali.
Karena apabila baik Shalatnya maka akan baik pula amalnya sebagaimana firman Allah dalam QS al-Ankabut ayat 45 yang artinya: “Sesungguhnya Shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.” Maka kumandang azan sejatinya bukan hanya ajakan atau pengingat telah masuknya waktu Shalat, namun mengingatkan untuk senantiasa beribadah kepada Allah sesuai dengan tujuan penciptaan manusia yang utama yaitu beribadah kepada Allah.
Oleh karena itu sesungguhnya manusia diciptakan bukan semata untuk menjadi seorang pengabdi dalam pertapaan yang tidak ikut dalam aktivitas keduniaan, bukan pula sebagai manusia bumi yang melakukan seluruh aktivitas duniawi dengan tidak memedulikan aturan Allah SWT dalam setiap tindak tanduknya.
Jangan lupa juga subscribe, like dan share channel Instagram Sriwijayapost di bawah ini:

Dalam hal ini tujuan Allah SWT menciptakan manusia agar manusia menjadi khalifah (wakil Allah SWT) yang mempunyai tugas memakmurkan bumi, yaitu menciptakan kemakmuran dengan segala kreasi menuju jalan kebajikan. QS. Al-Baqarah ayat 30 merupakan informasi bagi para malaikat bahwa Allah menciptakan khalifah (Adam dan keturunannya) di muka bumi. Manusia diberi derajat tinggi untuk mengatur, mengelola dan mengolah semua potensi yang ada dimuka bumi.
Untuk kepentingan inilah Allah SWT telah memberikan (menyediakan) segala sesuatunya yang akan manusia butuhkan di muka bumi ini. Dalam konteks ini, “kebajikan” tidak bisa diartikan sebagai seberapa banyak seseorang mempunyai dan bisa menikmati kekayaan ataupun kekuasaan.
Bukan pula kebajikan itu berupa penghindaran diri dari hiruk pikuk dunia dan menyendiri hanya kepada Tuhannya. Namun kebajikan itu adalah seberapa banyak kita membuat kemaslahatan untuk sesama dengan tetap menjalankan kehidupan dengan penuh ketakwaan menjalankan semua perintah dan menjauhi larangan-Nya.
Tujuan penciptaan berikutnya, yang merupakan implikasi dari tujuan terdahulu adalah bahwa manusia tercipta sebagai pengemban amanah. Hal ini karena manusia sendiri yang menerima Amanah Ilahi tersebut sebagaimana terkandung dalam Q.S. Al-Ahzab (33): 72-73.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/maftukhatusolikhah.jpg)