Pemuda Indonesia, Mana Sumpahmu!
Para pemuda Indonesia harus ditagih janji dan sumpahnya untuk menjaga Indonesia dalam kesatuan yang melingkupi keragaman dan multikultural.
Oleh: Dr Abdurrahmansyah, MAg
(Dosen UIN Raden Fatah Palembang)
SETIAP tahun sejak tanggal 28 Oktober 1928 silam seluruh pemuda Indonesia mengingat-ingat “sumpah” yang pernah dikumandangkan dengan heroik dan gegap gempita. Kalimat “bertanah air satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu”, bukan hanya sekedar untaian kata-kata biasa, tetapi lebih merupakan kalimat keramat yang memiliki tuah. Penegasan untuk berkomitmen menjaga bangsa, menjaga bahasa, dan menjaga tanah air merupakan semangat kebangsaan luhur yang penting untuk dimaknai secara aktual oleh generasi muda millennial di era digital ini.
Penting untuk memahami konteks sumpah pemuda di tengah-tengah arus perubahan cepat (disruptif) sebagai konsekwensi logis dari peradaban global yang memposisikan manusia sebagai satu komunitas, yakni global community. Semua informasi dapat diakses dengan cepat dan akurat. Tidak satu jengkal wilayahpun dari belahan dunia ini yang tidak terjangkau oleh akses kecuali bisa diketahui melalui jaringan internet.
Fenomena terbukanya akses global secara luas, selain menawarkan manfaat pasti menimbulkan dampak buruk. Salah satu dampak negatif penetrasi globalisasi adalah tergerusnya nilai-nilai moralitas bangsa dan semakin longgarnya spirit ke-Indonesiaan.
Gaya hidup generasi muda berubah, tata nilai lokal semakin diabaikan. Tampilan lifestyle kaum muda millennial lebih gandrung pada pemenuhan hasrat untuk menikmati hidup dengan hiburan (fun), makanan (food), dan mode pakaian (fashion) yang tidak berorientasi pada budaya lokal.
Jangan lupa subscribe, like dan share channel Youtube Sripokutv di bawah ini:
Kiblat dan tren-setter para remaja dan kaum muda untuk menunjukkan kelas pergaulannya untuk aspek fun, food, dan fashion lebih mengacu pada budaya luar. Khazanah budaya dan warisan lokal tetap saja dianggap kurang keren dan tidak modern.
Gejala pelemahan karakter kaum muda Indonesia melalui penetrasi western lifestyle dan negara-negara yang berkiblat ke Barat seperti Korean Style secara tidak sadar telah membuat negeri ini semakin kehilangan identitas budaya dan jati diri ke-Indonesiaan. Kaum muda Indonesia perlu digugah untuk tidak mengingkari sumpahnya yang maha keramat itu.
Sumpah Pemuda: Momentum Penguatan Karakter Bangsa
Fakta sejarah sumpah pemuda sesungguhnya menunjukkan komitmen kepemudaan terhadap isu-isu nasionalisme yang sangat primer yakni: isu tanah air, isu kebangsaan, dan isu kebahasaan. Para utusan pemuda dari berbagai daerah mengatasnamakan Jong Java, Jong Minahasa, Jong Batak, Jong Ambon, Jong Silebes, Jong Sumatra, dan seterusnya secara sadar mengikat sumpah untuk tetap menjunjung tinggi marwah ke-Indonesiaan.
Perbedaan secara tanah adat, perbedaan suku bangsa, dan perbedaan bahasa daerah tidak boleh menjadi pemecah belah untuk meruntuhkan eksistensi negara kesatuan. Karakter bangsa Indonesia dapat ditunjukkan melalui sikap kembali pada khazanah budaya bangsa, bukan dengan plagiasi budaya asing.
Nilai-nilai gotong royong yang ditunjukkan pada sejarah sumpah pemuda justru menjadi ruh untuk membangun semangat team work dan mengorganisir kekuatan yang sangat efektif. Khazanah budaya lokal berupa seni yang sangat kaya dapat menjadi inspirasi dan dikembangkan menjadi produk hiburan (fun) yang menarik. Khazanah local food yang dimiliki setiap daerah di Indonesia justru lebih sehat dan bergizi ketimbang makanan cepat saji Mc.D, KFC, Coca Cola, dan lain-lain.
Bahkan potensi fashion yang ada di setiap daerah dengan kualitas material bahan yang sangat bermutu sungguh layak untuk diapresiasi. Lebih penting dari semua itu bahwa semua warisan seni (fun), kuliner lokal (food), dan mode pakaian (fashion) yang tumbuh dan berkembang di Indonesia selalu memiliki filosofi yang sangat dalam sehingga ketika menggunakan berbagai khazanah budaya tersebut secara otomatis kita telah mengajarkan tentang makna (meaning) dan nilai-nilai (values) kepada generasi muda sebagai penerus bangsa.
Jangan lupa juga subscribe, like dan share channel Instagram Sriwijayapost di bawah ini:

Posisi pemuda sebagai penerus estapeta perjalanan bangsa harus dimaknai sebagai tanggungjawab seluruh elemen bangsa untuk mendidik kaum muda. Kebijakan pembangunan di semua sektor harus mampu menguatkan jati diri para pemuda.
Nilai-nilai luhur yang sejak lama tumbuh dan berkembang di Indonesia selalu berakar pada nilai religiusitas dan spiritualitas di masyarakat seharusnya dilestarikan dan kembangkan menjadi prinsip-prinsip pengembangan karakter dengan model dan strategi penguatan character education berbasis kearifan lokal.
Institusi pendidikan pada semua tingkatan harus mulai mengimplementasikan metodologi dan konten pendidikan yang didesain dari khazanah budaya lokal yang memiliki filosofi untuk mengajarkan kesantunan, kejujuran, kerja keras, disiplin, dan mandiri.
Jika melihat kecenderungan lemahnya sikap dan sakitnya mental para pemuda Indonesia saat ini dengan berbagai fenomena dekadensi moral, sangat membuat prihatin nasib bangsa ini ke depan. Disinyalir BNN setiap hari tercatat sekitar 50 orang tewas karena penyalahgunaan narkotika di Indonesia. Terdapat sekitar 4,5 juta warga mengkonsumsi narkoba tahun 2014 dan jumlah ini akan terus meningkat setiap tahun, dimana usia remaja dan kaum muda terlibat di dalamnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/Abdurrahmansyah3-Abdurrahmansyah2-Abdurrahmansyah1-Abdurrahmansyah.jpg)