DAMPAK Buruk Perang Rusia vs Ukraina bagi Indonesia, Harga Emas, Batubara & BBM Naik, APBN Terbebani
Berangkat dari konflik Rusia vs Ukraina ini banyak ahli pakar hubungan internasional yang melihat ini dan mengkajinya.
Penulis: Abdul Hafiz | Editor: Sudarwan
Oleh karena alasan permintaan dua masyarakat dua daerah yang ingin merdeka tadi, Putin kemudian berupaya untuk melindungi mereka dan memulailah konflik ini.
Itulah dua layer penyebab konflik yang terjadi di Rusia dan Ukraina sekarang.
"Kalau dampak sudah pasti. Kalau perekonomian kita sudah lihat. Terjadi banyak embargo. Jepang dan Amerika sudah menyatakan siap menjatuhkan sanksi terhadap Rusia untuk mengembargonya. Dan ini pasti berpengaruh pada perekonomian. Misalkan Rusia itu salah satu penyuplai terbesar bahan-bahan logam seperti nikel, emas, batubara, gas," beber dosen kelahiran Jambi 11 April 1989 ini.
Ferdi yang merupakan alumni Fisip UMY dan pasca sarjana di UGM memaparkan, kalau ada sanksi seperti ini otomatis mereka akan sulit masuk pasar global dan tentu saja di pasar global harga barang-barang ini akan naik.
Kalau emas, minyak sama batubara sudah naik dari seminggu yang lalu. Sebelum serangan terjadi. Ketika baru sentimen, sudah naik.
Dan itu pertama berdampak ke Indonesia karena Indonesia itu importir minyak bumi dan kita mensubsidi minyak bumi, otomatis ketika terjadi harga naik APBN kita akan terbebani.
"Kalau gak salah di APBN, harga BBM dipatok di harga USD 60 per barel. Dan untuk hari ini kita minyak dunia sudah 90-an. Jadi hari ini pun APBN sudah terbebani dengan adanya ini," sebutnya.
Ukraina sendiri adalah salah satu penyuplai gandum terbesar pasti akan ada dampak ekonomi yang akan terganggu juga. Dunia pasti banyak menggunakan gandum.
Lantas apa yang bisa dilakukan?
Menurut Ferdi Indonesia bisa ambil peran terutama dengan jalur-jalur diplomatik misalkan jalur multilateral.
Seperti diketahui Indonesia saat ini memegang tampuk Ketua Presidensi G20.
Di mana Rusia sendiri di dalam anggota negara G20.
Itu artinya Indonesia bisa memainkan forum G20.
Ini sebenarnya tantangan juga.
"Saya pikir Indonesia mungkin sebelumnya tidak memasukkan, tidak ada agenda ini dalam Presidensi G20 lebih recovery masalah covid. Gara-gara ini mau gak mau konflik ini harus dimasukkan dalam agenda Indonesia kemudian jadi salah satu solusi untuk menyelesaikan konflik ini," ujarnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/urekosknss.jpg)