DAMPAK Buruk Perang Rusia vs Ukraina bagi Indonesia, Harga Emas, Batubara & BBM Naik, APBN Terbebani

Berangkat dari konflik Rusia vs Ukraina ini banyak ahli pakar hubungan internasional yang melihat ini dan mengkajinya.

Penulis: Abdul Hafiz | Editor: Sudarwan
via Daily Mail
Sebuah ledakan terlihat pada Kamis dini hari di kota Kharkiv, Ukraina. Invasi Rusia ke Ukraina telah dimulai. Ledakan terjadi di beberapa tempat. 

Jalur bilateral juga bisa dilakukan karena sebenarnya lima tahun belakangan itu Rusia seperti terlihat ingin menjadikan Indonesia mitra utama dalam hal.

"Kita tahu banyak alutsista yang dibeli kerjasama dengan Rusia. Kemudian mulai kerjasama budaya. Walaupun Indonesia sendiri punya sejarah panjang hubungan bilateral sejak era Soviet itu sudah terjalin lama. Selain jalur multilateral, jalur bilateral pun bisa dilaksanakan," terangnya.

Nah kenapa Indonesia bisa ambil peran?

Konflik ini, kata Ferdi, membawa Rusia ke dalam atmosfer perang dingin.

Kita tahu di masa perang dingin antara blok Soviet dengan Amerika Serikat, Indonesia salah satu inisiator gerakan Non-Blok.

Sebenarnya Indonesia itu tidak asing, sudah punya pengalaman berada di antara konflik seperti ini.

Di zaman gerakan Non-Blok, Indonesia sudah mencoba untuk mengurangi tensi ketegangan antara blok Barat dengan Blok Timur.

Dan hari ini, di balik Ukraina kan ada NATO, Uni Eropa versus Rusia.

Ini kan mirip dengan perang dingin.

Berdasarkan pengalaman Indonesia yang menginisiasi gerakan negara Non-Blok, lalu melakukan advokasi terkait konflik seperti ini pasti akan berguna untuk menyelesaikan konflik ini.

Di layer kedua, ini ada masalah keragaman budaya ada di Ukraina yang kemudian menjadi pemicu konflik.

Nah Indonesia punya pengalaman soal itu.

Menyelesaikan kasus Aceh, Maluku, Poso, Papua, Kalimantan yang inti konflik itu sebenarnya adalah masalah kesenjangan yang kemudian diarahkan ke persoalan budaya.

Nah Indonesia berhasil melakukan resolusi untuk kasus-kasus tersebut.

Pergolakan Aceh, Maluku, Papua, walaupun masih terjadi tapi semuanya sebenarnya sejauh ini Indonesia bisa memodernisasi konflik itu.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved