Dugaan Korupsi Masjid Raya Sriwijaya

Sidang Korupsi Masjid Raya Sriwijaya Digelar Hingga Malam, 11 Saksi Dipanggil JPU Kejati Sumsel

Disingung mengenai dana sebesar 80 miliar yang dicairkan ke pihak yayasan wakaf Masjid Raya Sriwijaya, Tobing: yang cair 50 miliar saja.

Editor: Refly Permana
sripoku.com/chairul nisyah
Sidang keterangan saksi dugaan korupsi Masjid Raya Srwijaya yang digelar di Pengadilan Negeri Tipikor Palembang, Selasa (7/9/2021). 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Sidang lanjutan kasus dugaan korupsi Masjid Raya Sriwijaya baru saja digelar di Pengadilan Negeri Tipikor Palembang. Adapun terdakwa berjumlah empat orang.

Pada sidang Selasa (7/9/2021), yang digelar hingga pukul 19.50, Majelis hakim dan JPU Kejati Sumsel masih terus melakukan pemeriksaan pada 11 saksi yang hadir secara langsung dimuka persidangan.

Pada keterangan saksi Lauma Tobing selaku mantan Kepala BPKAD Sumsel, menyebutkan bahwa saat menjabat, dirinya diperintah oleh mantan Gubernur Sumsel, Alex Noerdin untuk menyusun RKA (Rencana Kerja Anggaran) sebesar 100 miliar rupiah setiap tahunnya.

"100 miliar tersebut khusus untuk pembangunan masjid saja," jelas saksi terpidana Tobing dalam sidang.

Dirinya juga menjelaskan pada saat itu ketua TAPD dijabat oleh tersangka Mukti Sulaiman.

Tobing juga menjelaskan adanya perubahan-perubahan sebanyak 4 kali pada dana hibah Masjid Raya Sriwijaya.

"Apakah terhadap perubahan-perubahan tersebut saudara dilibatkan?" tanya JPU Kejati.

Tobing menjawab, dirinya dilibatkan pada perubahan-perubahan tersebut.

Sementara disingung mengenai dana sebesar 80 miliar yang dicairkan ke pihak yayasan wakaf Masjid Raya Sriwijaya, saksi terpidana Tobing menegaskan bahawa uang yang dicairkan hanya sebesar 50 miliar rupiah.

"Sesuai dengan NPHD dicairkan 50 miliar. Sedangkan 30 miliarnya tetap ada di kas negara," jelas saksi terpidana Tobing.

Ahmad Nasuhi & Mukti Sulaiman Jadi Saksi Sidang Korupsi Masjid Raya Sriwijaya, JPU Hadirkan 11 Saksi

Dikesempatan yang sama, saat JPU memeriksa saksi tersangka Ahmad Nasuhi, dirinya bersikukuh dirinya tidak terlibat atas pencairan dana hibah Masjid Raya Sriwijaya.

"Pada tahun 2015 saya diminta untuk memverifikasi dokumen. Sebelumnya pada tahun 2014 saya sudah mengetahui adanya cerita mengenai pembangunan masjid sriwijaya, yang akan dibangun di Jakabaring," ujar saksi tersangka Ahmad Nasuhi.

Disingung mengenai penganggaran. Ahmad Nasuhi dengan tegas mengatakan dirinya tidak terlibat. 

"Saya hanya melakukan verifikasi saja. Sebagai Plt saya tidak sama sekali memberikan keputusan terhadap pencairan dana tersebut," jelasnya.

Diberitakan sebelumnya, JPU Kejati Sumsel, M Na'imullah SH MH mengatakan jika pada persidangan pihaknya ada menunjukan dokumen yang diparaf oleh Mantan Gubernur Sumsel, Alex Noerdin.

"Paraf tersebut ada dalam salah satu dokumen yang diverifikasi, terkait pembangunan Masjid Raya Sriwijaya," ujar JPU Kejati Sumsel, M Naimullah.

Dirinya menjelaskan bahwasanya dalam fakta persidangan, saksi-saksi menyebutkan bahwa pengajuan proposal dalam hal ini tidak sesuai dengan aturan.

Tersangka Masjid Raya Sriwijaya Ahmad Nasuhi Sore Ini Dibawa ke RSMH Palembang, Kali Ini Rawat Inap

"Dengan adanya indikasi dana lebih dahulu cair, baru ada proposal. Dan juga adanya lelang lebih dahulu baru NPAD ditandatangani.

Jadi memang ada kaesalahan prosedur dari awal dalam kasus ini," tegas JPU Naim.

Sumber: Sriwijaya Post
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved