Mengenang Jenderal Ahmad Yani, Anak Emas Presiden Soekarno, Dihabisi di Depan Kamar Tidur
Jenderal Ahmad Yani meninggal dunia setelah dibredel 7 tembakan oleh pasukan Tjakrabirawa di kediamannya.
Penulis: Nadyia Tahzani | Editor: Sudarwan
Selanjutnya masuk ke AMS di Jakarta. Di AMS, Yani hanya bersekolah hingga kelas dua.
Di sana, Yani harus mengikuti program wajib militer yang dicanangkan oleh Pemerintah Hindia Belanda.
Dia mengikuti pendidikan militer pada Dinas Topografi Militer di Malang dan dilanjutkan di Bogor.
Dari situlah, Yani mengawali karirnya di dunia militer dengan pangkat sersan.
Setelah pendudukan Jepang pada 1942, Yani mengikuti pendidikan Heiho di Malang dan menjadi Tentara Pembela Tanah Air (Peta) di Bogor.
Subuh Mengerikan dalam Ingatan Amelia Achmad Yani
Amelia Achmad Yani, putri Jenderal Ahmad Yani, tidak akan pernah lupa subuh mengerikan tanggal 1 Oktober 1965, tepatnya pukul 04:30 WIB.
Saat itu semua orang di kediaman Yani yang sedang terlelap dikejutkan suara bredel tembakan yang gencar dan suara sepatu lapangan tentara berlarian.
“Terdengar suasana hiruk-pikuk. Segalanya berjalan tiba-tiba, berlalu begitu cepat,” kenang Amelia Achmad Yani dikutip Tribun Network dari buku Ahmad Yani Tumbal Revolusi.
Amelia mengintip hiruk pikuk yang terjadi di rumah dari pintu kamar.
Kebetulan Amelia saat itu sedang tidur dengan adiknya yang nomor enam, Yuni.
Amelia melihat begitu banyak tentara dengan baret merah tua sudah berada di rumah.
Amelia juga melihat sesosok tubuh yang sedang diseret pada kakinya dan badan serta kepala di lantai.
Selain tentara dengan baret merah juga ada anak-anak muda dengan baju militer hijau dan pita-pita di pundaknya.
Amelia dan anak-anak Ahmad Yani yang lainnya sontak terkejut mengetahui sosok yang diseret para tentara itu adalah ayahnya.