Mengenang Jenderal Ahmad Yani, Anak Emas Presiden Soekarno, Dihabisi di Depan Kamar Tidur

Jenderal Ahmad Yani meninggal dunia setelah dibredel 7 tembakan oleh pasukan Tjakrabirawa di kediamannya.

Penulis: Nadyia Tahzani | Editor: Sudarwan
wikipedia
Jendral Ahmad Yani, Anak Emas Presiden Soekarno 

Mereka bergegas mengejar rombongan tentara yang menyeret Ahmad Yani, mengikuti mereka sampai ke pintu belakang sambil menangis memanggil bapak.

“Dan mereka pun mengancam, “kalau anak-anak tidak masuk akan ditembak juga semuanya!” Dan kami menjadi sangat ketakutan. Kami berlari masuk ke dalam kami dengar suara kendaraan menderu-deru membawa bapak pergi entah kemana,” dikutip Tribun Network.

Segumpal darah hangat tertinggal di lantai ruang makan, pintu kaca berserakan tertembus peluru, dan darah Ahmad Yani berserakan di sepanjang lantai bekas Ahmad Yani diseret-seret.

Di dinding banyak bercak-bercak darah, bahkan sampai di luar halaman rumah dan jalan aspal.

“Kami tiba-tiba berhamburan, memungut peluru-peluru kosong, semuanya ada tujuh. Kami berebut masuk ke kamar tidur bapak kamar yang sudah sepi dan kosong. Entah siapa di antara kami yang mengangkat telepon terlebih dahulu, tetapi rumanya hubungan telepon sudah diputuskan,” dikutip Tribun dari buku Ahmad Yani Tumbal Revolusi.

“Segera kami minta mbok Milah untuk memanggil Om Bardi ajudan bapak. Mbok Mangun uncul namun tidak mengerti apa, hanya bertanya: ” Ndoro kakung teng pundi Digowo sopo?” (Bapak kemana? dibawa siapa?),” kisah Amelia.

Kakak Amelia, Emmi memberi petunjuk agar cepat berganti pakaian supaya kalau ada hal lain terjadi bisa segera kabur.

Anak-anak Ahmad Yani saat itu benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.

Mereka hanya duduk di lantai, mengelilingi darah Sang Pahlawan Revolusi sambil berharap Ahmad Yani tidak meninggal.

“Karena kalau dilihat dari bekas-bekas tembakan, tangan dan pahanya saja yang terkena, jadi bukan jantungnya. Kami mulai berdoa bersama,” dikutip Tribun dari buku Ahmad Yani Tumbal Revolusi.

Kemudian masuklah komandan dari penjaga kediaman Yani yang sudah dilucuti pasukan Tjakrabirawa.

Komandan itu menanyakan kepada anak-anak Ahmad Yani, darah siapa yang berceceran di dalam rumah.

“Ini darah bapak (Ahmad Yani), jawab kami. Tampak wajahnya kosong. Dia tentu tidak percaya, dan tidak mampu untuk berbuat apa-apa. Kami semua dicekam rasa takut yang amat sangat dan tida mengerti harus berbuat apa,” ceritanya.

Pukul 05:00 WIB, Ajudan Jenderal Ahmad Yani tiba di rumah.

Anak-anak Ahmad Yani langsung menghambur padanya dan mengadukan bahwa sang ayah dibawa pergi oleh tentara baret merah yang jumlahnya banyak sekali.

Anak-anak Ahmad Yani pun turut mengungkapkan bahwa sang ayah ditembak.

“Kami menunjukan ke darah yang berceceran. Dan Oom Bardi terpana tidak dapat bicara sepatah kata pun. Dia juga tidak tahu harus berbuat apa.

Dia mondar-mandir dengan napas yang tidak menentu,” dikutip Tribun dari buku Ahmad Yani Tumbal Revolusi.

1 Oktober, Karangan Bunga Ahmad Yani untuk Istri yang Berulang Tahun.

Tak lama setelah Ahmad Yani diculik, sebuah mobil Jip masuk ke rumah.

Mobil Jip itu berisikan istri Ahmad Yani, Yayu Rulia Sutowiryo.”Ibu kaget mendapatkan kami semua sudah bangun.

Ibu bertanya, ada apa pagi-pagi sudah bangun?! Kami hanya dapat berkata, “Bu, bapak, bu. Bapak… bapak ditembak dan dibawa pergi… naik truk!” Ibu tiba-tiba menjerit-jerit lari keluar, dan berteriak:”Cari! Cari, bapak! Cari! Sampai ketemu Kemana bapak! Cari,” .

Amelia mengisahkan, semua orang di kediaman Yani saat itu tertegun, bingung dan kacau.

Ajudan Ahmad Yani pun mondar-mandir dan tidak tahu harus bagaimana.

Selanjutnya istri Ahmad Yani tiba-tiba pingsan.

Ketika sadarkan diri, istri Ahmad Yani lekas mengajak anak-anaknya berdoa bersama-sama.

Istri Yani turut mengatakan pada anak-anaknya, dengan melihat sisa-sisa darah yang berceceran di rumah, berarti Ahmad Yani sudah meninggal dunia.

“Kami semua menjawab, “Belum bu! Bapak masih hidup, ini bekasnya bu. Cuma tangan dan kakinya yang kena, bu. Jadi bapak masih hidup. Jangan bilang bapak sudah meninggal bu,” dikutip Tribun dari buku Ahmad Yani Tumbal Revolusi.

Istri Ahmad Yani kemudian mengambil segumpal darah hangat yang berceceran, diusapkannya dengan dua telapak tangannya ke wajah, leher dan dadanya untuk menjadi sumber kekuatannya.

Kemudian istri Yani membersihkan darah itu dengan kemeja putih yang sore itu dipakai Ahmad Yani.

“Barulah sekarang kami sadar tentang apa yang telah terjadi. Kami baru dapat menangis. Menangis ditinggalkan oleh bapak,” kenang Amelia Yani.

Sekira pukul 09:00 WIB pagi, sebuah karangan bunga yang indah dari “Bela Flora” datang dengan ucapan, “Selamat Ulang Tahun 1 Oktober 1965” buat ibuku (Yayu Rulia Sutowiryo).

“Adapun yang mengirimnya adalah bapak (Ahmad Yani) sendiri, padahal orang yang mengirim bunga itu entah kini entah berada di mana. Bunga itu membuat kedukaan yang semakin mendalam,” kenang Amelia dalam bukunya. 

Wafat karena ditembak

Dikutip dari Kompas.com Pada 1 Oktober, Ahmad Yani menjadi salah satu korban penculikan G30S.

Saat akan dijemput, Ahamd Yani menolak untuk ikut serta.

Karena melakukan perlawanan, Ahmad Yani mendapat serangan tembak hingga terbunuh di depan kamar tidurnya.

Setelah tewas, jenazah Ahmad Yani dibawa ke Lubang Buaya dan dimasukkan ke dalam sebuah sumur tua bersama enam korban lainnya.

Pada 4 Oktober 1965, jenazah ditemukan dan dimakamkan dengan layak di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.

Oleh negara, Jenderal Anumerta Ahmad Yani dianugerahi gelar sebagai Pahlawan Revolusi berdasarkan SK Presiden Nomor III/KOTI/1965.

Baca juga: KISAH Soetanti Istri DN Aidit & Bupati Tokoh PKI, Nyamar Suami Istri, Curiga karena Anak tak Manja

Sumber: Sriwijaya Post
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved