Buya Menjawab

Berwasilah kepada Nabi Muhammad

Apa alasan ulama yang tidak membolehkan berwasilah kepada Nabi Muhammad SAW setelah wafatnya.

Editor: Bejoroy
mtf-online.com
Nabi Muhammad SAW. 

Assalamu’alaikum.Wr.Wb.
BUYA, apa alasan ulama yang tidak membolehkan berwasilah kepada Nabi Muhammad SAW setelah wafatnya.

Sedangkan ada yang berpendapat bahwa berwasilah kepada Nabi Muhammad SAW setelah wafatnya dibenarkan dalam pandangan hukum Islam.

Mohon penjelasannya, Buya. Terima kasih.
08235224XXXX

Baca juga: Amalkan 4 Doa Nabi Muhammad SAW Setiap Selesai Sholat Subuh, Niscaya Rezeki Berlimpah & Tetap Sehat

Baca juga: Buya Menjawab: Boleh Sholat Jumat dan Corona Berakhir saat Bintang Tsurayya Terbit Pekan Kedua Juni

Jawaban:
Waalaikumussalam.Wr.Wb.
Tawassul (membuat perantara) adalah menjadikan sesuatu sebagai perantara agar suatu do’a dan permohonan yang dimaksudkan terkabul.

Jangan lupa subscribe, like dan share channel Youtube Sripokutv di bawah ini:

Menurut pendapat ulama Wahabi; Bertawassul kepada Allah SWT dengan amal saleh dibolehkan, juga bertawassul dengan meminta doa kepada orang-orang shaleh yang masih hidup mengacu pada Riwayat Anas bin Malik ra. Menuturkan bahwa: ketika kaum muslimin ditimpa kemarau panjang, Umar bin Khattab ra. bertawassul dengan meminta doa dari ‘Abbas bin Abdul Muthallib, seraya berkata: ”Ya Allah, dahulu kami bertawassul kepadaMu dengan do’a Nabi kami, maka Engkau turunkan hujan untuk kami. Setelah Nabi kami wafat, kami bertawassul dengan doa paman Nabi kami, maka turunkanlah hujan untuk kami. Lalu Allah pun menurunkan hujan untuk mereka”. (HR.Bukhari)

Menurut ulama Ahlussunnah, bahwa bertawassul kepada Nabi Muhammad SAW. dan orang-orang shaleh baik ketika masih hidup maupun setelah mereka meninggal dianjurkan, Rasulullah SAW. bersabda; “Jangan jadikan rumah kalian (seperti) pemakaman, jangan jadikan makamku seperti hari Raya dan bersholawatlah kepadaku, karena dimanapun kalian berada shalawat kalian akan sampai kepadaku.” (HR.Abu Dawud).

Dari hadits di atas ada tiga hal; pertama, jangan jadikan rumah sebagai pemakaman, artinya sepi dan sunyi, artinya perbanyak shalat sunnat dan zikir di rumah. Kedua, jangan jadikan makam Nabi seperti hari Raya, yang diramaikan sekali setahun. Maksudnya datangi makam Rasulullah SAW sesering mungkin. Meramaikannya dengan bershalawat dan berzikir. Ketiga, sesungguhnya Nabi SAW. hidup di makamnya, dan kita yang penuh dosa ini dianjurkan untuk senantiasa mendatangi Nabi SAW. Sebagaimana Allah SWT. berfirman dalam surah An-Nisa’ ayat 64:

”… Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya, datang kepadamu, lalu mereka memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat dan Maha Penyayang.” (An-Nisa’:64)

Jangan lupa subscribe, like dan share channel TikTok Sriwijayapost di bawah ini:

Logo TikTok Sripoku.com

Dari ayat di atas, jika seorang Muslim berbuat dzalim kepada dirinya sendiri dengan melakukan beberapa perbuatan dosa, maka dianjurkan untuk mendatangi Rasulullah SAW. (baik ketika beliau masih hidup ataupun setelah wafat) dan meminta beliau memohonkan ampun kepada Allah SWT.

Seperti diceritakan di dalam Tafsir Ibnu Katsir, bahwa ada seorang Badwi berziarah ke makam Rasulullah SAW.Dia berkata: ”Salam sejahtera bagimu wahai Rasulullah (utusan Allah) Aku mendengar Allah mewahyukan (dibacakannya ayat 64 surah An-Nisa). Selanjutnya orang Badwi itu berkata: ”Sekarang aku telah datang kepadamu, mengharap syafaatmu agar Allah mengampuni dosaku.”

Selanjutnya Badwi itu mengucapkan beberapa bait syair; ”Duhai sebaik-baik manusia yang jasadnya terkubur di bumi karena keharumannya…

Setelah itu Badwi itu pergi meninggalkan makam Rasulullah SAW. ‘Attabi yang saat itu berada disitu, tak kuasa menahan kantuk, lalu tertidur. Dalam tidurnya ia bermimpi bertemu dengan Rasulullah SAW. Dan beliau memerintahkannya untuk mengejar Badwi tersebut dan supaya menyampaikan kabar gembira kepada Badwi itu bahwa Allah telah mengampuninya. (Ismail bin Umar bin Katsir Ad-Dimsyqi, Tafsir Ibnu Katsir, Juz 1, Darul Fikr, Beirut, 1401, hlm.521)

Dari keterangn di atas bahwa setelah wafatnyapun Rasulullah SAW. masih dapat memberikan syafaat, dan mimpi ‘Attabi bertemu dengan Rasulullah llah SAW. Tersebut adalah Ru’yah shadiqah (mimpi yang benar) karena kata Rasulullah SAW. Bahwa Iblis tidak bisa menyerupai Rasulullah SAW.

Demikian jawaban Buya, untuk dijadikan pedoman dalam berwasilah kepada Rasulullah SAW. (*)

Jangan lupa Like fanspage Facebook Sriwijaya Post di bawah ini:

Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved