Breaking News:

Perceraian Meningkat di Banyuasin, Terdampak Pandemi Masalah Ekonomi Faktor Dominan Gugatan Cerai

Kasus peceraian di Pengadilan Agama Banyuasin hingga bulan Juli 2021,mencapai 600 perkara.Umumnya kasus perceraian di dominasi masalah ekonomi

Editor: Azwir Ahmad
ho/sripoku.com
Jubir Pengadilan Agama Pangkalan Balai Rivaldi Fahlevi SH 

SRIPOKU.COM, BANYUASIN - Kasus perceraian di wilayah Banyuasin mengalami peningkatan sejak awal Januari hingga Juli.

Setidaknya hingga bulan Juli ini, ada 600 kasus perceraian yang ditangani Pengadilan Agama Banyuasin.

Hal ini diungkapkan Jubir Pengadilan Agama Pangkalan Balai Rivaldi Fahlevi SH yang ditemui, Kamis (22/7/2021).

Menurutnya, hingga bulan Juli, jumlah kasus penanganan perceraian di wilayah Banyuasin sudah 600 kasus perceraian, dan juga kasus warisan yang ditangani Pengadilan Agama Banyuasin.

"Banyak faktor yang menyebabkan adanya gugatan perceraian, tetapi paling banyak karena faktor ekonomi. Kebanyakan, yang menggugat itu perempuan," katanya.

Dia jelaskan, Bila perempuan yang menggugat cerai, maka disebut dengan gugat cerai. Bila laki-laki yang menceraikan disebut talak.

Lanjut Rivaldi, faktor perceraian yang ada di wilayah Banyuasin salah satunya karena dampak  pandemi.

Diungkapkan oleh Rivaldi, yang juga sebagai hakim dan dalam persidangan gugat cerai, banyak dari pihak perempuan menggugat karena perekonomian di dalam rumah tangga yang bermasalah.

Karena perekonomian itulah, membuat seorang lelaki yang tidak bekerja dan tidak memberi nafkah kepada keluarganya membuat si perempuan melakukan gugatan.

Namun, menurutnya sebelum dilakukan persidangan saat gugatan cerai dari perempuan pastinya terlebih dahulu dilakukan mediasi.

Halaman
12
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved