Breaking News:

Buya Menjawab

Kurban bagi Orang yang Sudah Meninggal

Apa boleh berkurban atas nama orangtua, ayah atau ibu yang telah meninggal dunia, apa sampai pahalanya.

Editor: Bejoroy
SRIPOKU.COM / Maya Citra Rosa
Ilustrasi - Doni, salah seorang pedagang hewan kurban di Jalan Kol H Barlian, KM 6 Palembang mengaku penjualan hewan kurban tahun ini benar-benar anjlok, Selasa (21/7/2020) 

Assalamu alaikum.Wr.Wb.
BUYA beberapa hari lagi kita berjumpa dengan Zul Hijjah. Buya apa boleh berkurban atas nama orangtua, ayah atau ibu yang telah meninggal dunia, apa sampai pahalanya. Mohon penjelasan Buya. Terimakasih.
Terima kasih 08571867XXXX

Baca juga: Pandemi Covid-19 Tidak Kendorkan Niat Berkurban, Permintaan Hewan Kurban Justru Meningkat

Baca juga: Apa Hukumnya Orang yang Belum Aqiqah tapi Berkurban? Begini Penjelasan Ini Sebaiknya Harus Didulukan

Jawab:
Wa alaikumussalam.Wr.Wb.
Berkurban atas nama orang tua, ayah, ibu yang telah meninggal dunia dibolehkan dan sampai pahalanya. Sebagaimana nabi Muhammad Saw.berwasiat kepada Ali Ibn Abi Thalib supaya sepeninggal rasul Saw. potongkan kurban buat beliau.

Sudah lazim pula dikalangan kaum muslimin di Indonesia, memotong hewan qurban atas nama orang tua mereka yang sudah mati. Ini juga bermuara kepada hadits shahih yang diriwayatkan Tirmizi bahwa Khalifah Ali bin Abu Thalib ra. jika berkurban, beliau menyembelih dua ekor domba, satu beliau niatkan untuk Nabi Muhammad saw. dan yang satunya untuk dirinya sendiri. Ketika ditanya tentang perbuatannya ini, beliau menjawab;

Jangan lupa subscribe, like dan share channel Youtube Sripokutv di bawah ini:

"Aku telah diperintahkan oleh Rasulullah saw. untuk melakukannya, maka aku tidak akan pernah meninggalkannya". (HR. Tirmizi)

Dalam sunan Abu Dawud, dalam hal yang sama menceritakan jawaban Khalifah Ali bin Abu Thalib adalah; "Sesungguhnya Rasulullah saw. telah berwasiat kepadaku untuk menyembelih kurban atas namanya, dan sekarang aku sedang berkurban atas namanya". (HR. Abu Dawud)

Sedekah untuk orang tua atau keluarga yang sudah mati bukan saja dalam bentuk, makanan, materi, tapi juga bisa dalam bentuk ayat-ayat suci Al-Quran, tahlil, tasbih, dan lain-lain sesuai petunjuk Rasulullah saw.;

"Dari Abu Dzarr bahwasanya orang-orang bertanya kepada Rasulullah saw: "Wahai Rasulullah orang-orang kaya telah memborong pahala, dimana mereka shalat sebagaimana kami shalat,mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa, dan mereka menyedekahkan kelebihan harta mereka". Rasulullah saw. bersabda: "Bukankah Allah telah menjadikan sesuatu yang dapat kalian sedekahkan! Sesungguhnya setiap tasbih adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, menyuruh orang berbuat baik adalah sedekah, mencegah dari perbuatan munkar adalah sedekah, bahkan di dalam salah seorang di antara kamu sekalian itu bersetubuh dengan istrinya juga termasuk sedekah". Para sahabat bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah seseorang itu melampiaskan nafsunya juga mendatangkan pahala? Beliau menjawab: "Bagaimana pendapatmu seandainya ia melampiaskan nafsunya pada yang haram, bukankah yang demikian itu mendatangkan dosa? Demikian sebaliknya bila ia melampiaskan nafsunya pada yang halal maka ia mendapatkan pahala". (HR.Muslim)

Jangan lupa Like fanspage Facebook Sriwijaya Post di bawah ini:

Apabila tasbih (ucapan Subhaanallah), tahmid (ucapan Alhamdulillaah), takbir (ucapan Allaahu akbar), tahlil (ucapan Laailaaha illallaah) adalah dapat di sedekahkan, maka selain makanan dan materi, ayat-ayat suci Al-Quran,(bacaa-bacaan) tersebutpun dapat disedekahkan buat orang yang telah mati.

Al-Imam Muhammad bin Ali bin Muhammad Al-Syaukani berkata; "Kebiasaan di sebagian Negara mengenai perkumpulan atau pertemuan di Masjid, rumah, di atas kubur, untuk membaca Al-Quran yang pahalanya dihadiahkan kepada orang yang telah meninggal dunia, tidak diragukan lagi hukumnya boleh (jaiz) jika di dalamnya tidak terdapat kemaksiatan dan kemungkaran, meskipun tidak ada penjelasan (secara dzahir-eksplisit) dari syari'at. Kegiatan melaksanakan perkumpulan itu pada dasarnya bukanlah sesuatu yang haram (muharram fi nafsih), apalagi jika di dalamnya diisi dengan kegiatan yang dapat menghasilkan ibadah seperti membaca Al-Quran atau lainnya. Dan tidaklah tercela menghadiahkan pahala membaca Al-Quran atau lainnya kepada orang yang telah meninggal dunia. Bahkan ada beberapa jenis bacaan yang didasarkan pada hadits shahih seperti:

(bacalah surat Yasin kepada orang mati di antara kamu). Tidak ada bedanya apakah pembacaan Surat Yasin tersebut dilakukan bersama-sama di dekat mayit atau di atas kuburannya, dan memba Al-Quran secara keseluruhan atau sebagian, baik dilakukan di Masjid atau di rumah". (Al-Rasa'il Al-Salafiyah, 46) Rasulullah saw. menyatakan dalam Hadis beliau:

"Barang siapa membaca Yaasin karena mengharap ridla Allah swt. niscaya Allah swt. ampuni dosa-dosanya yang telah lalu, maka baca olehmu (surah Yaasin) atas orang yang mati daripada kalian" (HR. Al-Baihaqi melalui Ma'qal ibnu Yasar). (*)

ilustrasi
Update 8 Juli 2021. (https://covid19.go.id/)
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved