Breaking News:

Duo Cagak Peradaban

Larik dari sepotong bait lirik lagu “Jayasiddhayatra Sriwijaya” satu dari karya trilogi (buku, film, musik), produksi Yayasan Kebudayaan Tandipulau

Editor: aminuddin
Duo Cagak Peradaban
ist
Budayawan DR A. Erwan Suryanegara, M.Sn

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - KITA…baca dahulu: “Peninggalan singkap misteri kejayaan negeri, pengarung tangguh penguasa bahari, prasasti, arca dan kronik jadi bukti si maharaja jejakkan dinasti, Dapunta Hiyang Srijayanasa bijak tak terperi, lahir dari leluhur budaya tinggi, di Bukit Barisan selatan Swarnabhumi…”

Adalah larik dari sepotong bait lirik lagu “Jayasiddhayatra Sriwijaya” satu dari karya trilogi (buku, film, musik), produksi Yayasan Kebudayaan Tandipulau.

Sengaja dipinjam untuk membuka dan mengawali tulisan, ketika membincangkan perihal potensi kebudayaan di Sumatera Selatan, berjudul “Duo Cagak” Peradaban ini.

Diksi “Duo Cagak” suatu kata bilangan yang berarti dua dalam Bahasa Palembang, untuk menunjukkan jumlah “Cagak” atau tonggak peradaban, sengaja dipergunakan sebagai pesan, guna pertegas ranah kelokalannya. Sehingga maksudnya, ada dua hal yang vertikal atau tegak menjulang, terkait peradaban di Sematera Selatan.

Cagak atau tiang memang sudah akrab atau tidak asing lagi dalam keseharian di Bhumi Melayu, dipahami sebagai satu struktur penting dari konstruksi Rumah Panggung, merupakan rumah hunian berbahan kayu tradisi aseli dan menjadi ciri unik yang memang khas masyarakat Melayu.

Rumah-rumah panggung itu hingga kini masih eksis keberadaannya, terutama di daerah Uluan di sepanjang setiap Daerah Aliran Sungai yang ada, bahkan jauh sebelum keberadaan jalan raya rumah-rumah itu cenderung dengan setia menghadap dan mensejajari aliran sungai dari hulu hingga ke hilir.

Sayangnya kini keterbatasan media kayu membuat rumah-rumah panggung berbahan kayu itu berangsur diganti dengan beton, dan arah hadapnya pun berbalik membelakangi sungai dan menghadap ke jalan raya, dengan sedirinya satu keunikannya hilang. 

Rumah panggung kayu itu tadi baru satu potensi peradaban Sumatera Selatan (Sumsel), potensi itu karena keberadaan banyak sungai yang cenderung semuanya bermuara ke Sungai Musi, sehingga secara kultur masyarakat di Sumatra Selatan sering disebut Masyarakat Batanghari Sembilan, terkait dengan keberadaan sembilan sungai-sungai besar di Sumsel.

Guna membicarakan potensi peradaban Sumatra Selatan, kita perlu menoleh ke belakang seperti kata Bung Karno Sang Putra Fajar “JASMERAH”…jangan sekali-kali melupakan sejarah.

Bukan mau bernostalgia belaka, justru dari perjalanan tapak-tapak perjalanan peradaban itu dapat menjadi inspirasi, motivasi dan kreasi ke depan.

Halaman
1234
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved