Duo Cagak Peradaban

Larik dari sepotong bait lirik lagu “Jayasiddhayatra Sriwijaya” satu dari karya trilogi (buku, film, musik), produksi Yayasan Kebudayaan Tandipulau

Editor: aminuddin
ist
Budayawan DR A. Erwan Suryanegara, M.Sn 

Menyoal megalitikum memang Indonesia memiliki tinggalan terbanyak dan menyebar di beberapa kepulauan Nusantara. Bicara megalitik memang tidak terdapat di seluruh dunia, mengingat megalitikum terkait dengan bahan dasar batuannya cenderung andesit (batuan beku), sehingga karya tinggalan megalitik cenderung bersifat monumental, maka tinggalannya hanya di wilayah-wilayah yang memiliki gunung-gunung api besar dan pernah meletus. Batuan andesit berasal dari magma gunung api yang meletus itu , kemudian membeku di luar dan menjadi bongkah-bongkah batuan andesit.

Megalitik Pasemah, di Kabupaten Lahat – Kota Pagaralam (center of megalith), memiliki keragaman jenis tinggalan terbanyak dibanding temuan-temuan megalitik lainnya.

Selain itumegalitik Pasemah juga memiliki keunikan lainnya, yakni telah dibuat karya yang dikenal sekarang sebagai karya seni rupa, ada patung, lukisan di dinding Kubur Batu, relief di Menhir, gambar gores di batu dan dinding batu.

Karya-karya megalitik di tempat lain, tidak selengkap keragaman jenis seperti di Bhumi Pasemah.

Di tempat lain sebut saja misalnya: Toraja – Sulawesi Selatan, Poso – Sulawesi Tenggara, Nusa Tenggara Barat, Sumatra Utara, Sumatera Barat, Malaysia, Inggris, Irlandia Barat, Pulau Ester – Chili, dan lain-lain.

Patung-patung Megalit Pasemah ini baru pertama kali dikaji dengan pisau bedah ilmu seni rupa pada 2004 – 2018, di Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD), ITB.

Keberadaan patung-patung megalit di Bhumi Pasemah, merupakan karya para empu-empu handal pemahat batu, sehingga karya patung megalit Pasemah tampil sebagai karya terbaik pada masanya.

Kala itu masih era nirleka (belum mengenal huruf/prasejarah), tentu belum mengenal bahkan masih sangat jauh dari konsep estetika, dalam menciptakan perupaan atau memahatkan rupa patung-patung tersebut.

Pertanyaan kritisnya dengan konsep penciptaan apa para empu itu memahat karyanya?

Melihat jejak teknik pahatannya sudah diketahui mereka menggunakan mata pahat logam, dan properti yang dipahatkan pada patung di antaranya juga sudah terpresentasi, mereka menyandang pedang, bergelang logam, mengenakan mata kalung logam, selain manik-manik.

Ternyata para empu yang mumpuni Teknik memahatnya itu, telah memiliki konsep penciptaan yang dinamakan Konsep Puyang (Erwan Suryanegara, 2018), merupakan fenomena awal estetik (Erwan Suryanegara, dkk., Tapak-Tapak Seni Rupa Nusantara, ITB Press, 2019).

Memang motivasi dan tujuan berkaryanya berbeda dengan konsep Estetika yang cenderung sebagai kebutuhan pribadi, konsep puyang lebih kepada masyarakat terkait sistem kepercayaan untuk media ritual.

Namun, secara bentuk (frorm) ternyata patung-patung megalit Pasemah tidak mengenal revetisi atau pengulangan bentuk, setiap patung selalu berbeda satu dengan lainya, terutama pada sikap subjek patung megalitnya, biarpun beragam bentuk dan sikapnya itu, konsepnya tetap satu sebagai media pemujaan arwah
leluhur.

Fakta itu mentasbihkan bahwa keragaman patung megalit Pasemah adalah “Monumen Keragaman Nusantara” atau itulah monumen dari motto Bhinneka Tunggal Ika pada pita yang dicengkram oleh Burung Garuda Pancasila.

Sampai hari ini situs-situs yang di dalamnya terdapat artefak-artefak megalit itu, sebagian besar masih insitu, ada berapa sudah dimuseumkan tapi sayangnya mengabaikan data titik koordinat temuan dan arah hadapnya.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved