Duo Cagak Peradaban

Larik dari sepotong bait lirik lagu “Jayasiddhayatra Sriwijaya” satu dari karya trilogi (buku, film, musik), produksi Yayasan Kebudayaan Tandipulau

Editor: aminuddin
ist
Budayawan DR A. Erwan Suryanegara, M.Sn 

Di lapangan, tata kelolanya masih sangat memprihatikan, mengingat semua itu adalah warisan dunia karena satu-satunya terdapat di Bhumi Pasemah.

Sama sekali belum ada gagasan kreatif bagaimana memberdayakannya, agar warisan dunia itu dapat lestari dan berbicara, sehingga memberikan manfaat bagi bangsa dan negara.

Sesungguhnya telah beberapa kali gagasan dasar pengembangan Megalitik Pasemah disampaikan ke pemerintah setempat, namun belum juga ada aware apalagi tampak implementasinya.

Walaupun lambat namun pasti dari waktu ke waktu artefak itu mengalami aus, bahkan beberapa di antaranya ada yang sudah pecah dan aus termakan usia, sehingga cenderung akan kesulitan menelusuri jejak bentuk asalnya.

Cagak Kerajaan Sriwijaya

Cagak peradaban kedua adalah Sriwijaya, Sriwijaya sebagaimana diketahui sungguh fenomenal, sudah seabad lebih menjadi wacana menarik dalam perdebatan sejarah dunia.

Salah-satu kerajaan maritim besar dan digdaya pada eranya, tempat bertemunya agama- agama besar dunia, tempat bertemunya bandar-bandar dagang dunia atau merupakan gerbang jalur rempah dunia kala itu, salah-satu pusat pendidikan agama Budha dunia, salah satu negara terpanjang rentang kekuasaannya di dunia hingga tujuh abad, Sriwijaya pula yang menghegemonikan peradaban Melayu, seperti: Rumah Panggung Kayu, Bahasa
Melayu, multi religi, sehingga tersebar luas ke beberapa kawasan di Asia tenggara.

Dari situ dapat dikatakan bahwa Bhumi Sriwijaya adalah Bhumi Melayu.

Namun, Palembang yang oleh sebagian besar para ahli, diyakini sebagai tempat pusat pemerintahan Sriwijaya, kondisi tingalan-tinggalannya sangat memprihatinkan.

Berdasarkan tinggalan-tingalannya, baik situs dan artefaktualnya, juga ada kronik atau catatan dari para pengembara baik asal China, Arab, maupun India.

Dari data-data itulah oleh para ahli dunia sudah seabad lebih, masih menjadikannya tema yang menarik untuk dikaji dan diperbincangkan.

Berbicara data ke-Sriwijaya-an kawan-kawan arkeolog di bawah koordinasi Arkeologi Nasional, telah memiliki data yang cukup lengkap termasuk hasil kajian
datanya.

Masih terkait data Sriwijaya itu, di lapangan terdapat beberapa permasalahan, yakni: beberapa situs Sriwijaya ada yang telah rusak atau bahkan hilang, karena ada yang ditimpa oleh data sejarah lebih kemudian.

Artefak-artefak itu juga cukup banyak yang sudah dipindahkan ke museum sehingga tidak lagi insitu, mirisnya saat dipindahkan tidak didata posisi titik koordinat maupun arah hadap artefak-artefak tersebut, akibatnya kita sekarang kehilangan sebagian data sejarah itu.

Situs Sriwijaya Bukit Siguntang misalnya, situs Bukit Siguntang itu menurut arkeolog sudah semakin rusak parah, hanya karena motivasi proyek guna mendapat suntikan anggaran pusat, beberapa tahun lalu mengangkangi UU Cagar Budaya, dengan mendatangkan alat berat boldozer ke zona inti situs, Pemda Sumatera Selatan menambahkan bangunan-bangunan baru konstruksi beton bertulang, berupa Kolam Air Mancur di puncak Bukit Siguntang, dan beberapa Gedung dan Galeri di kaki Bukit Siguntang, dengan merobek zona inti baik di puncak maupun di kaki bukit, mereka harus menggali cukup dalam tentunya untuk pondasi bangunan-bangunan beton itu.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved