Duo Cagak Peradaban
Larik dari sepotong bait lirik lagu “Jayasiddhayatra Sriwijaya” satu dari karya trilogi (buku, film, musik), produksi Yayasan Kebudayaan Tandipulau
Seperti diketahui sebelumnya situs arkeologi Bukit Siguntang, memang sudah dirusak oleh kehadiran petilasan-petilasan, dan beberapa bangunan beton penunjang lainnya, dasar atau sumbernya hanya berupa hikayat Melayu, namun dipasang papan nama Raja-Raja Sriwijaya Akhir.
Sekarang kondisi situs Sriwijaya Bukit Siguntang cukup memprihatinkan, karena tentu sulit untuk merehabilitasi mengembalikannya seperti semula, namun kalau dengan keinginan keras dan sungguh-sungguh tentunya bisa, dan bangunan-bangunan sampah ke-Sriwijaya-an tersebut harus dibongkar.
Selain itu, tentu banyak masyarakat awam yang terkecoh dengan tumpang-tindihnya cerita dan sejarah . Sementara ada beberapa situs yang hilang, seperti situs tempat ditemukannya arca Ganesha, di Jalan Mayor Ruslan, dan situs Sarang Waty, di Lemabang, lahannya telah dialihtangankan terjual.
Ada pula situs Sriwijaya yang sudah berubah menjadi kompleks makam pada era Kesultanan Palembang.
Selain itu, untuk situs tempat ditemukannya beberapa prasasti penting Sriwijaya, ada yang sudah menjadi bagian area Pelabuhan Boom Baru, ada pula menjadi area sekolah dan lain sebagainya, prasasti-prasasti itu umumnya kehilangan data posisi atau letak titik koordinat dan arah hadapprasastinya.
Melihat kondisi Palembang sekarang tentunya telah sulit untuk mengembalikan terutama situs-situs yang telah hilang, maupun situs yang telah ditimpa oleh peristiwa sejarah lebih kemudian, termasuk artefak-artefak Sriwijaya yang telah dimuseumkan.
Guna menghadapi atau mengatasi hal-hal tadi, telah ada gagasan sebagai solusinya dan pernah pula disampaikan ke salah-satu Pemda di Sumatra Selatan, namun hingga kini belum jelas tindaklanjutnya.
Juga pernah ada Pemda yang meminta gagasan dan pemikiran untuk daerahnya, setelah direspon bahkan ditindaklanjuti dengan dibuatkan salah-satu rancangan karyanya, juga sama sampai saat ini tanpa kabar berita dari Pemda tersebut.
Sebetulnya termasuk telah menjadi jawaban, atas pertanyaan yang pernah dilontarkan oleh Gubernur Sumatera Selatan, “apa ikon Sumatra Selatan (Sumsel) yang dapat diterima oleh semua masyarakat Sumatra Selatan?”
Sumsel dikenal pula sebagai Bhumi Sriwijaya, maka tentunya dengan visualisasi dari nilai-nilai ke-Sriwijaya-an dapat mempresentasikannya.
Berdasarkan kajian dalam membaca Sriwijaya yang telah kita lakukan sejak 1999, ada bacaan terbaru yang juga telah beberapa kali dipublikasikan dan dikomunikasikan ke publik, yakni jawaban terkait perdebatan tarik-menarik dimana pusat pemerintahan Sriwijaya?
Dari silang perdebatan itu, para ahli memang lebih banyak merujuk kepada Palembang, sebagai pusat pemerintahan Sriwijaya kala itu.
Beberapa indikator kuat pusat pemerintahan Sriwijaya di Palembang, seperti: 1). Keberaradaan Sungai Musi yang membelah Kota Palembang; 2). Situs-situs Sriwijaya terbanyak ditemukan di Palembang dan Sumat3ra Selatan; 3). Prasasti-prasasti penting Sriwijaya juga terbanyak ditemukan di Palembang; 4). Kajian para ahli yang mengarah kepada Palembang sebagai pusat pemerintahan Sriwijaya cenderung lebih didukung oleh data-data kuat yang bersifat artefaktual-arkeologis.
Dalam proses membaca Sriwijaya itu pula, kita telah sampai pada kesimpulan atas dugaan kuat, dapat mengidentifikasi dimana lokasi istana Sriwijaya, di Palembang itu.(*)
Duo Cagak Peradaban
DR A. Erwan Suryanegara, M.Sn
Budayawan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/megajpg.jpg)