Dikepung 3 Virus, Delta Paling Masif, Indonesia Bisa Jadi INDIA, Epidemiolog Usulkan Lockdown Total

Keputusan pemerintah tidak melakukan lockdown dan hanya memberlakukan PPKM Skala Micro, diduga menjadi pemicunya.

Editor: Hendra Kusuma
SRIPOKU.COM/ANTON
Ilustrasi varian Delta dari virus corona, penyebab tsunami Covid-19 di India, Dikepung 3 Virus, Delta Paling Masif, Indonesia Bisa Jadi India, Epidemiolog Usulkan Lockdown Total 

Varian virus corona Delta ini diangggap lebih menular dan bisa menyebar lebih cepat.

Varian virus corona Delta juga sudah menyebar ke sejumlah wilayah di Indonesi antara lain Jakarta.

3. Alasan PSBB

Mulai hari ini, kebijakan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) skala mikro untuk mengatasi lonjakan kasus Covid-19 berlaku hingga 5 Juli 2021.

Padahal, sebelumnya banyak ahli mengingatkan bahwa yang dibutuhkan Indonesia saat ini adalah pembatasan sosial berskala besar (PSBB) ketat.

Usulan PSBB disarankan oleh lima perhimpunan profesi dokter, yakni Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (Papdi), Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif Indonesia (Perdatin), serta Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskuler Indonesia (Perki).

Ahli epidemiologi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Dr dr Windhu Purnomo, pun menegaskan, yang dibutuhkan Indonesia saat ini PSBB, bukan PPKM mikro yang disebutnya jelas tidak efektif.

Sebelumnya, Windhu menerangkan bahwa harapan Jokowi agar herd immunity segera tercapai masih sangat jauh.

Hal itu karena kita menghadapi dua tantangan besar.

Pertama, kesediaan vaksin yang sangat terbatas dan jauh dari kebutuhan saat ini.

Kedua, adanya varian virus corona yang terus berkembang dan lebih menular.

Kepada Kompas.com, Windhu mengatakan bahwa mengandalkan vaksinasi saja tidak cukup.

Pasalnya, untuk mencapai herd immunity Covid-19, diperlukan vaksinasi minimal 70 persen dari total penduduk Indonesia.

Syarat ini, berlaku untuk varian original atau asli yang pertama kali diidentifikasi di Wuhan, China, Desember 2019.
===

4. Vaksin Bisa Sia-sia

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved