Virus Corona
Prof Yuwono Ungkap Tsunami Covid-19 India tak akan Terjadi di Indonesia : Faktor Genetik Pembedanya
Tsunami Covid-19 di India menjadi cerminan yang besar agar tidak terjadi juga di Indonesia.
Penulis: maya citra rosa | Editor: Yandi Triansyah
Laporan wartawan Sripoku.com, Maya Citra Rosa
SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Tsunami Covid-19 di India menjadi cerminan yang besar agar tidak terjadi juga di Indonesia.
Para ahli kesehatan di Indonesia sudah mengingatkan mengenai kemungkinan melonjaknya kasus corona dapat terjadi.
Namun Ahli Mikrobiologi Sumsel sekaligus Direktur RS Pusri, Prof Dr dr Yuwono M Biomed memastikan bahwa Indonesia tidak akan sampai terjadi seperti India.
Hal ini karena faktor genetik background orang India yang bersuku bangka kaukasia atau Eropa tua, sehingga rentan terhadap penularan Covid-19.
Hal ini juga berlaku bagi Malaysia, yang sebagian besar penduduknya adalah Melayu, India dan China.
"Sangat berbeda dengan kita (Indonesia) yang memiliki banyak variasi genetik, sehingga akan semakin kuat untuk bertahan dari penularan," ujarnya, Sabtu (8/5/2021).
Tidak hanya itu, faktor lainnya kerumunan di India sangat parah, bahkan rentan jumlah penduduk yang hampir 1 Miliar, orang di sana penuh jauh dari di Indonesia.
"Faktor kemiskinan negara juga menjadi latar belakang penyebab, dan penduduk India sudah bereuforia dengan vaksin," ujarnya dalam bincang Walk the Talk with Wenny, Jumat (7/5/2021).
Prof Yuwono meminta untuk pemerintah dan masyarakat optimis penanganan Covid-19 akan berhasil.
Namun tetap dilakukan bersamaan dengan kewaspadaan.
Kebijakan pemerintah saat ini juga dibutuhkan dengan Komunikasi yang baik, sehingga masyarakat dapat mengerti maksud dan tujuannya.
Berbanding terbalik dengan hal itu, kebijakan yang dianggap terlambat seperti larangan buka puasa bersama lebih dari lima orang, shalat tarawih yang penuh, pembatasan mal dan pasar sudah tidak bisa lagi dilakukan.
"Sampaikan dengan komunikasi yang baik, bahwa ada tujuan besarnya, agar masyarakat tidak paham.
Kalau dibilang jangan mudik nanti kita seperti India, alasan ini mudah dipatahkan. Tapi bisa katakan dalam rangka tidak mudik, tidak solat idul Fitri supaya penanganan Covid-19 lebih maksimal," ujarnya.
Larangan mudik yang diberlakukan juga hanya dapat membatasi sekitar 7 persen saja, selebihnya masih banyak masyarakat yang mudik.