Berita Sriwijaya FC
Biar Ga Loyo Saat Latihan Keras di Bulan Puasa, Ini Tips Dari Calon Kapten Sriwijaya FC
Tingginya tempo latihan yang diterapkan Nil Maizar di bulan puasa, membuat para pemain Sriwijaya FC harus mempersiapkan fisik agar tetap prima.
Penulis: Abdul Hafiz | Editor: RM. Resha A.U
Laporan wartawan Sripoku.com, Abdul Hafiz
SRIPOKU.COM, PALEMBANG -- Tingginya tempo latihan yang diterapkan Nil Maizar di bulan puasa, membuat para pemain Sriwijaya FC harus mempersiapkan fisik agar tetap prima.
Pemain depan yang masih anyar Sriwijaya FC, Dedi Hartono ketika ditanya sempat mengakui kerasnya latihan yang diterapkan.
Sehingga pemain yang tengah menjalani puasa harus pandai menjaga stamina.
"Konsumsi makan dan minum, terus banyak minum vitamin dan istitahat yang teratur. Kalau bisa jangan tidur malam-malam, biasanya kan bulan puasa banyak bergadang," ujarnya saat diwawancarai.
Baca juga: Daftar 17 Pemain Sriwijaya FC, Perburuan Belum Selesai, Akan Ada 8 Pemain Berkualitas Lagi
Baca juga: Minggu Ini Pelatih Sriwijaya FC Nil Maizar Bakal Umumkan Pertahankan Pemain Trial
Tidak hanya itu, ia juga memberikan saran untuk melihat asupan nutrisi selama berpuasa.
Dan juga, menjaga pola istirahat yang cukup.
"Jaga kondisi dan itu tadi banyak minum vitamin, makannya dijaga," ungkap Dedi yang dikenal di posisi gelandang berkostum nomor 10 itu.
Pemain yang musim lalu membela Borneo FC itu sempat ditunjuk oleh pelatih untuk menyandang posisi sebagai Kapten Tim.
Ia mengaku, hal ini menjadi tantangan tersendiri mengingat kapten tim merupakan representasi dari rekan-rekannya yang lain.
"Masih banyak lagi yang lebih senior, seperti Ambrizal. Tapi kalau disuruh jadi kapten, gak masalah, siap-siap aja," ujar Dedi yang kelahiran Lampung, 12 November 1987 itu.
Dedi yang mengidolakan kakak kandungnya sendiri May Rahman mengatakan, yang pasti kalau ditunjuk jadi kapten tim harus bisa menjadi contoh 10 pemain lainnya.
"Yang jelas jadi kapten tim itu sebagai contoh terhadap teman-teman. Di dalam lapangan itu ada 11 pemain, satu kapten memberikan contoh yang terbaik untuk 10 pemain. Harus maksimal, lebih semangat lagi di lapangan sebagai contoh," jelasnya.
Baca juga: Coach Nil Maizar Genjot Latihan Pemain Sriwijaya FC Selama 2 Jam saat Ramadhan : Ngos-ngosan
Baca juga: Sriwijaya FC Resmi Kontrak Gelandang Bertahan Adik Muhammad Nasuha Dari Perserang Banten
Bapak satu anak ini mengaku ada alasan tersendiri mengidolakan May Rahman, yang tak lain adalah kakak kandungnya sendiri.
Ia mengaku, sering mendapat wejangan dari kakaknya itu soal dunia sepakbola.
"Ya karena saya dari kecil sama aja kayak diasuh sama dia. Dikasih wejangan, ceramah soal bola begini begini. Salah satu motivasi saya jadi pemain sepakbola. Menurut saya pemain Indonesia lainnya sama saja. Kan hak saya yang meniru, bukan yang di sana. Yang mengajarkan saya, orang-orang dekat saya. Makanya saya pengalaman ya itulah," kata Dedi Hartono.
Dedi mengaku senang akhirnya tahun ini bisa berjodoh dengan tim berjuluk Laskar Wong Kito dan menganggap Tahun 2016 belum berjodoh saja.
"Tertarik ke Sriwijaya FC ini karena target manajemen untuk lolos Liga 1. Dulu hampir mau jadi di Sriwijaya. Namun itulah belum rezeki waktu itu. Tahun 2016 kalau gak salah," terangnya.
Baca juga: Dikontrak PSM Makassar, Mantan Pemain Sriwijaya FC Ini Mengaku Belum Dapat Tim Untuk Musim 2021
Baca juga: Pelatih Sriwijaya FC Gaet Ambrizal, Seleksi Akhir Calon Siswa Akademi SFC
Dedi Hartono adalah pemain sepakbola Indonesia yang bermain untuk Borneo FC di Liga 1 2020.
Selain rajin memberikan umpan menusuk dari garis pinggir lapangan, melewati satu atau dua pemain lawan dengan mudahnya, Dedi kerap melepas umpan-umpan crossing yang membuat pertahanan lawan kocar-kacir.
"Saya mengawali di klub PSBL Bandarlampung 2005, Semen Padang 2006-2007, Batito 2011. Di Barito selama 5 musim sampai 2017. Kemudian pindah ke Mitra Kukar 2018. Lalu balik lagi Semen Padang 2019. Terakhir 2020 di Borneo FC," kata Dedi.
Setelah sempat mengenakan jersey Sriwijaya FC namun akhirnya kandas, baru musim kompetisi 2021 ini Dedi Hartono akhirnya bergabung.
"Menurut saya setiap perjalanan selalu ada histori. Tapi yang jelas menurut saya semuanya pengalaman berharga, berkesan semua. Gak bisa dibilang satu ini. Sama saja karena setiap perjalanan saya nikmati perjalanan itu," terangnya.
Klub tempatnya bekerja dirasakannya dekat dengan tanah kelahiran, sehingga terpikirkan olehnya nanti untuk menyempatkan pulang kampung ke Pringsewu Lampung.
"Ya kalau di sini rencana-rencana mau mudik kan deket. Kalau rumah saya itu di Pringsewu dari sini jalan 5 jam itu udah nyantai. Keluarga saya masih lengkap semuanya di Lampung. Bapak, Ibu, Mertua, istri, anak semua. Tepatnya di Desa Tegal Sari, Kecamatan Gading Rejo, Kabupaten Pringsewu, Provinsi Lampung," pungkasnya.