Breaking News:

Chef Dadang Tengah Risau, Rumah Makannya Sepi Hingga Omzet Turun 150 Persen, Akibatnya Pajak Nunggak

Chef Dadang, mengalami penurunan omzet penjualan selama massa pandemi ini mencapai 150 persen per bulan.

SRIPOKU.COM/WAWAN SEPTIAWAN
Salah satu tempat makan di Kota Pagaralam yang sangat sepi pembeli saat masa pandemi Covid-19. Gambar diambil Februari 2021. 

Laporan Wartawan Sripoku.com, Wawan Septiawan

SRIPOKU.COM, PAGARALAM - Seorang pengusaha rumah makan di Pagaralam, Chef Dadang, mengalami penurunan omzet penjualan selama massa pandemi ini mencapai 150 persen per bulan.

Kondisi ini disebabkan sepinya pembali yang makan di rumah makan miliknya selama massa pandemi ini.

Selain itu, sedikitnya wisatawan yang datang ke Pagaralam juga sangat mempengaruhi jumlah kunjungan di tempat makan miliknya.

Terdesak Biaya Bersalin Istri, Bapak Muda di Sekayu Berbuat Nekat, Begal Pelajar di Hutan

Dadang mengatakan, selama massa pandemi ini dirinya sangat merasakan penurunan omzet penjualan hingga 150 persen perbulan.

"Omset kami pengusaha rumah makan selama pandemi ini sangat turun pak, bahkan turunnya mencapai 150 persen per bulan," kata Dadang.

Diceritakan Dadang, sebelum massa pandemi rumah makan miliknya bisa mendapat pemasukan hingga Rp 200 juta per bulan.

Namun, selama massa pandemi ini pihaknya hanya mampu mendapatkan penjualan sebesar Rp 45 juta per bulan.

"Dari rata-rata Rp 200 juta perbulan saat ini hanya mampu menghasilkan Rp 45 juta perbulan pak," katanya.

Jumlah tersebut tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan, mulai dari belanja modal, gaji karyawan sampai biaya operasional serta pajak yang harus dikeluarkan.

Kisah M Fathoni, 25 Tahun Jadi Guru Honorer di SD Negeri 1 Cengal Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI)

"Biaya yang didapat saat ini hanya mampu memcukupi kebutuhan modal dan operasional saja.

Belum termasuk untuk membayar pajak. Saat ini saja saya sudah menunggak pajak beberapa bulan karena belum mampu bayar," jelasnya.

Setiap hari biasanya dirinya mampu menghasilkan uang rata-rata Rp 2 sampai Rp3 juta namun saat ini hanya Rp 700 ribu saja.

"Kami berharap ada solusi dari pemerintah untuk kesulitan yang dialami para pengusaha tempat makan ini.

Paling tidak ada keringanan pajak atau solusi lain agar kami mampu menjalankan usaha ini terus," pintanya.

Penulis: Wawan Septiawan
Editor: Refly Permana
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved