Breaking News:

Berita Lubuklinggau

Pedagang Gorengan di Lubuklinggau tidak Sedikan Gorengan Tahu dan Tempe, Ternyata Ini Penyebabnya!

puluhan perajin tahu tempe di Kota Lubuklinggau Sumatra Selatan (Sumsel) menggelar kesepakatan melakukan mogok produksi terhitung tanggal 15 - 16

Editor: Welly Hadinata
Tribun Sumsel/Eko
Ida pegawai warung gorengan Tysa dan Syifa di Kelurahan Majapahit, Kecatamatan Lubuklinggau Timur I saat menyusun gorengan jualannya. 

Sebelumnya, puluhan perajin tahu tempe di Kota Lubuklinggau Sumatra Selatan (Sumsel) menggelar kesepakatan melakukan mogok produksi terhitung tanggal 15 - 16 Februari 2021 mendatang.

Rosichin Darmo, perajin tahu mengatakan mogok produksi tersebut untuk menyikapi naiknya kacang kedelai sejak beberapa bulan terakhir ini yang mulai tak menentu.

"Ini bentuk protes kita dalam menyikapi adanya kenaikkan harga kacang kedelai akhir-akhir ini," ujar Rosichin saat ditemui wartawan beberapa waktu lalu.

Rosichin mengaku saat harga kedelai di kota ini masih Rp.7.800 per kilo saat itu para pengrajin masih bisa bertahan meski keuntungan yang dihasilkan tidak begitu besar.

Namun saat ini para pengrajin terasa sangat sulit karena harga kedelai sudah mencapai Rp.10.100 per kilo. Kenaikan harga kedelai ini jelas dampaknya sangat dirasakan, sebab jangan untung balik modal pun tidak.

"Kenaikan mencapai 22 persen, setelah mogok produksi nanti, Rabu( 17/02/2021) mendatang kita akan produksi kembali seperti semula, hanya saja kita berupaya akan menaikkan harga dipasaran," ungkapnya.

Rosichin mengatakan 53 perajin perajin tahu dan tempe di Kota Lubuklinggau telah sepakat dan akan  konsisten untuk menghentikan produksi selama dua hari, bila ketahuan produksi akan diberikan sanksinya.

"Semua perajin tahu tempe telah sepakat semuanya harus ikut melakukan mogok produksi, nanti kita akan melakukan pengecekan langsung dilapangan" ujarnya.

Setelah mogok produksi mereka juga telah sepakat akan melakukan penaikan harga dipasaran, semua perajin tahu tempe melakukan penjualan dengan harga yang sama tanpa ada perbedaan.

"Pada tahun 2008, pernah juga mengalami hal yang sama yakni kenaikan harga kedelai, namun keluhan perajin tahu tempe saat itu cepat direspon pemerintah " tambahnya. (Joy/TS)

Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved