Narasi Kutukan “Sriwijaya” Demi Menguasai Kekayaan Alam?

Jika kajian komunikasi itu diperbandingkan dengan berbagai narasi dari prasasti Kedatuan Sriwijaya, mungkin sangat menarik untuk didiskusikan saat ini

Tayang:
Editor: aminuddin
internet
Jurnalis dan Pekerja Budaya T. Wijaya 

SRIPOKU.COM-PALEMBANG - Dalam sejarahnya sebuah kekuasaan pasti membangun narasi.

Narasi ini ingin menyampaikan wacana [discourse] yang didukung pengetahuan dan ideologi.

Misalnya menceritakan penguasa memiliki kekuatan tak terkalahkan [dewa], memiliki tujuan mulia bagi umat manusia, atau mampu melindungi jiwa dan raga seseorang atau banyak orang.

Di masa modern, Adolf Hitler bersama Nazi, membangun narasi jika ras Arya adalah ras unggul atau utama.

Ras Arya merupakan keturunan dari ras Nordik.

Mereka yakin di masa prasejarah ras ini mendiami dataran Jerman bagian utara, yang berasal dari benua yang hilang, Atlantis.

Melalui pengetahuan ini, Adolf Hitler mampu menggerakan masyarakat Jerman untuk berperang dan melakukan holocaust terhadap orang-orang Yahudi.

Di era Orde Baru, narasi pembangunan mampu memfasilitasi pemerintahan otoriter Soeharto.

Nilai-nilai demokrasi dan kemanusiaan banyak diabaikan demi menjalankan pembangunan.

Michel Foucault, seorang pemikir post-modernisme, menyatakan sebuah kekuasaan tidak dapat dipisahkan dengan pengetahuan.

Sebuah kekuasaan melahirkan pengetahuan, dan pengetahuan dibentuk oleh kekuasaan.

Bagi Foucault, pengetahuan tersebut sebagai episteme, yakni pengetahuan otoritatif yang mengatur sikap dan perilaku masyarakat.

Dr. Ridzki Rinanto Sigit, pakar komunikasi yang kini memimpin Mongabay Indonesia, dalam artikel “Tafsir Simbol Teks Kedewaan Raja Purnawarman dalam Prasasti Peninggalan Kerajaan Tarumanagara di Aliran Sungai Cisadane” yang dipublikasikan Borobudur Writer & Cultural 2019, menyebutkan kehadiran prasasti di aliran Sungai Cisadane, seperti menyebutkan Raja Purnawarman adalah sosok perkasa layaknya dewa, secara geopolitik abad ke-5,  merupakan narasi yang dibangun bertujuan agar Raja Purnawarman mampu mengontrol wilayah di pedalaman Jawa Barat yang kaya dengan sumberdaya alam dan mineral berharga, yaitu emas dan perak, yang akan memastikan kekayaan negara, berputarnya roda pemerintahan dan memastikan dominasi kekuasaan Tarumanagara di antara kerajaan maupun penguasa wilayah lainnya di Jawa. 

Jika kajian komunikasi tersebut diperbandingkan dengan berbagai narasi dari prasasti Kedatuan Sriwijaya, mungkin sangat menarik untuk didiskusikan pada saat ini.

                                                               ***

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved