Breaking News:

Salam Sriwijaya

Menyikapi Langkah Protokol Kesehatan Covid-19

Dari seluruh pemberitaan sesungguhnya adalah peringatan bagi masyarakat dampak dari prilaku mengabaikan protokol kesehatan yang sudah didukung

Editor: Bejoroy
istimewa/handout
Ilustrasi - Babinsa Koramil Sukarami saat memberikan edukasi penegakan protokol kesehatan di hadapan driver ojol, Senin (5/10/2020). 

SRIPOKU.COM - Hampir setiap hari pemberitaan media massa baik elektronik maupun cetak tak luput dari masalah protokol kesehatan Covid-19 dengan berbagai masalah. Mulai dari informasi meningkatkan angka terkonfirmasi positif, negatif, meninggal dan sehat dari covid-19.

Bahkan beberapa waktu terakhir, nuansa pemberitaan pun tidak sepi dari penerapan sanksi bagi pelanggar protokol kesehatan sebagai langkah pemutusan mata rantai penyebaran virus corona karena grafik angka terkonformasi covid-19 semakin tinggi.

Optimalkan Petugas Gabungan Edukasi Warga untuk Terapkan Protokol Kesehatan

Bibir Kering dan Pecah-pecah Bisa Jadi Pertanda Cheilitis, Apa Itu?

Jangan lupa subscribe, like dan share channel Youtube Sripokutv di bawah ini:

Seperti diwartakan media ini edisi kemaren halaman sebelas dengan rubrikasi "Perangi Covid-19" yang hampir satu halaman mengupas masalah covid-19. Diantara judul yang ditampillan "'Amankan dan Bubarkan Hajatan','Optimalkan Peran Petugas Tertibkan Prokes', 'Akan Sering Lakukan Razia', 'Kapolsek Jangan Izinkan Keramaian', 'Soal Biaya Swab RS Tiarap', 'Milenial Dominasi Pelanggaran'".

Dari seluruh pemberitaan tersebut sesungguhnya adalah peringatan bagi masyarakat dampak dari prilaku mengabaikan protokol kesehatan yang sudah didukung oleh peraturan daerah, baik dalam bentuk Perwali maupun Pergub agar masyarakat serius merespon dampak dan konsekwensi dari terpapar virus corona dan tidak menciptakan cluster-cluster baru.

Seperti pernyataan Kasat Reskrim Polrestabes Palembang, AKBP Nuryono yang menyebutkan telah mengamankan pemilik alat musik orgen tunggal dan orang yang mengadakan acara hajatan. Bahkan disebutkan bahwa Tidak ada izin keramaian yang dikeluarkan dari dari pihak kepolisian Yang jadi pertanyaan kita, bahkan juga masyarakat mempertanyakan.

Dan jangan lupa juga subscribe, like dan share channel Instagram Sriwijayapost di bawah ini:

"Masak sebuah hajatan yang sudah terlihat tanda-tanda seperti pemasangan tenda dan lainnya, meski tidak ada izin, seperti tidak terpantau, setelah berjalan baru dibubarkan."

Seyogya, mulai dari aparat RT, RW dan bukan tidak mungkin dalam kepanitiaan hajatan tidak satu pun yang melek dengan kondisi yang terjadi dengan penyebaran virus corona yang hingga kini belum ada vaksin yang bisa menyehatkan pasien yang terpapar covid-19.

Dan di tingkat kelurahan, sebenarnya pihak kepolisian sudah menempatkan seorang anggota sebagai perpanjangan tangan baik dari masyarakat ke pihak pejabat maupun dari pejabat terhadap masyarakat.

Salah satu contoh lainnya yang juga menjadi sorotan masyarakat dan tidak terkecuali pihak tenaga medis --seperti Ikatan Dokter Indonesia" tingginya biaya swab bagi yang ingin melakukannya secara mandiri sebagai langkah memutus mata rantai penyebaran virus corona. Karena --seperti layaknya bisnis tertentu, seperti ada tawar menawar kalau mau cepat hasilnya, biaya tinggi dan kalau mau murah, harus meninggi sekian hari. Artinya adanya kesadaran masyarakat untuk melakukan swab sebagai langkah antisipasi harus merogoh biaya yang tidak sedikit.

Update Sumsel Covid-19 Tgl 05 Oktober 2020.
Update Sumsel Covid-19 Tgl 05 Oktober 2020. (http://corona.sumselprov.go.id/)

Sementara ada provinsi di Indonesia menggratiskan biasa swab dan waktu tunggu yang tidak terlalu lama, sudah bisa mengetahui apakah seseorang terindakasi atau tidak.

Anehnya, setelah Kementerian Kesehatan menetapkan batasan tariftertinggi yang harus dibayarkan untuk melakukan pengujian PCR atau tes swab mandiri di rumah sakit turun menjadi Rp 900 ribu dari harga sebelumnya hingga jutaan rupiah, Per 2 Oktober, pihak rumah sakit jutru seperti sepakat tidak berkomentar. Dengan tidak berkomentarnya pihak RS semakin menguatkan dugaan, pihak RS pun tidak serius dan "Bermain" dalam memutus mata rantai penularan Covid-19.

Mungkin perlu kesamaan bahasa --ibarat tim orkestra besar ingin membawakan lagu "putus rantai penyebaran Covid-19" antara pemain musim, penyanyi dan pemegang tongkat derigen betul-betul kompak sehingga menghasilkan nyanyian yang enak didengar telinga, bukan justru membisingkan lobang telinga.

Jangan lupa Like fanspage Facebook Sriwijaya Post di bawah ini:

Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved