Breaking News:

Virus Corona di Sumsel

Mengapa 3 Kecamatan di Palembang Ini Selalu Jadi Kasus Tertinggi Corona, Ini Kata Ahli Epidemiolog

Kasus konfirmasi Covid-19 di Kota Palembang terus bertambah, meskipun tidak melonjak tinggi seperti beberapa bulan yang lalu.

Penulis: maya citra rosa
Editor: Yandi Triansyah
SRIPOKU.COM/ANTONI AGUSTINO
Update covid-19 atau virus corona di Palembang 

Laporan wartawan Sripoku.com, Maya Citra Rosa

SRIPOKU.COM, PALEMBANG -- Kasus konfirmasi Covid-19 di Kota Palembang terus bertambah, meskipun tidak melonjak tinggi seperti beberapa bulan yang lalu.

Namun angka kasus Covid-19 tertinggi terdapat di tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Sukarami, Ilir Barat I dan Sako.

Seperti angka kasus konfirmasi di tiga kecamatan tersebut pada Mingu (4/10/2020), menurut data Dinas Kesehatan Kota Palembang, Kecamatan Sukarami masih menjadi wilayah tertinggi kasus konfirmasi aktif dengan jumlahnya 68 orang.

Disusul dengan Kecamatan Ilir Barat I sebanyak 55 kasus positif dan Kecamatan Sako sudah mencapai 53 orang.

Ahli Epidemiolog Sumsel, Dr.Iche Andriyani Liberty, SKM., M.Kes mengatakan bahwa banyak faktor penyebab yang mempengaruhi tiga kecamatan tersebut menjadi kasus konfirmasi tertinggi.

Seperti tingginya aktivitas dan mobilitas masyarakat di wilayah tersebut, yang mengakibatkan transmisi di wilayah tersebut juga semakin besar.

Angka Kematian Covid-19 di Sumsel Tinggi, IDI Sarankan Pilkada Ditunda

Kepadatan suatu wilayah juga menjadi penyebabnya, hingga sistem pelayanan kesehatan, dimana kapasitas Tracing, Testing dan Treatment (3T) yang masih belum optimal.

"Juga kesadaran masyarakat terhadap penanggulangan pandemi ini juga menjadi penyebab yang mempengaruhi tiga kecamatan ini menjadi wilayah kasus konfirmasi tertinggi," ujarnya.

Namun sebenarnya setiap kecamatan memiliki peluang kasus konfirmasi yang sama, apabila pengoptimalan 3T tidak sesuai fakta di lapangan.

Kewaspadaan masyarakat terhadap Covid-19 harus diutamakan, tidak hanya kepada orang seperti bergejala namun juga kepada orang yang tidak bergejala (OTG).

Menurutnya, saat ini studi terkait transmisi atau penularan dari OTG masih minim ditemukan, dan juga butuh kejelasan mengenai apakah memang pasien tersebut benar-benar tanpa gejala atau sebenarnya ada gejala tetapi ringan sekali.

"Tetapi ada beberapa studi yang mendukung bahwa OTG ini punya potensi untuk menularkan juga," ujarnya.

Oleh karena kewaspadaan masyarakat terhadap pasien bergejala atau OTG harus tetap sama, karena belum dapat dipastikan transmisi ditularkan melalui siapa.

"Ini yang bahaya, menjadi tantangan mengapa pandemi Covid-19 ini sulit terkendali," ujarnya.

Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved