Virus Corona

New Normal dan Peradaban Manusia

Peradaban manusia selalu berubah.Perubahan ini umumnya didorong keinginan menyelamatkan jiwa dan mencapai kebahagian.

Editor: Salman Rasyidin
ist
Taufik Wijaya 

 

 

Oleh: Taufik Wijaya

Jurnalis dan Pekerja Budaya

Peradaban manusia selalu berubah.

Perubahan ini umumnya didorong keinginan menyelamatkan jiwa dan mencapai kebahagian.

Ilmu pengetahuan dan teknologi, pun agama, merupakan alat atau sarana untuk mencapai hal tersebut.

Dulu manusia hidup di dalam goa-goa, tapi guna menghindar ancaman binatang buas atau cuaca buruk yang menyebabkan sakit atau kematian, manusia akhirnya membuat rumah.

Pada abad pertengahan, banyak kota atau permukiman di dunia, khususnya di Eropa, akibat kondisi sanitasi yang buruk, memunculkan penyakit pes, yang mematikan. Black Death.

Tapi peristiwa tersebut mendorong bangsa Eropa, melalui ilmu pengetahuan dan teknologi, menata kota atau permukiman yang lebih baik, serta mengembangkan ilmu kesehatan dan pengobatan, sehingga manusia hidup lebih sehat.

Tapi keinginan bangsa Eropa yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, tidak sebatas hidup sehat dan berumur panjang, juga kekayaan dan kekuasaan, sebagai modal membangun peradabannya.

Setelah peristiwa Black Death, menggunakan keunggulan ilmu pengetahuan dan teknologi, bangsa Eropa mencarian hingga merampas kekayaan alam ke wilayah lain di dunia, seperti Afrika, Asia dan Amerika.

Setelah era itu, ilmu pengetahuan dan teknologi terus digunakan manusia untuk memanfaatkan sedemikian rupa kekayaan alam.

Tidak heran, dua abad terakhir, lompatan perubahan peradaban manusia begitu cepat dan tinggi dibandingkan sebelumnya.

Contohnya, tidak sampai 30 tahun, Anda menulis dari mesin ketik, komputer hingga gadget.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved