Virus Corona

New Normal dan Peradaban Manusia

Peradaban manusia selalu berubah.Perubahan ini umumnya didorong keinginan menyelamatkan jiwa dan mencapai kebahagian.

Editor: Salman Rasyidin
ist
Taufik Wijaya 

Padahal sebelumnya menulis menggunakan pahat, pisau dan tinta pada media batu, kulit kayu atau hewan, kertas, menuju mesin ketik membutuhkan puluhan abad.

Persoalannya, kian banyak produk diciptakan untuk mencapai keinginan tersebut, kehidupan manusia tetap terancam berbagai penyakit yang mematikan.

Mulai dari kanker, gangguan fungsi atau kerusakan organ tubuh akibat radiasi, keracunan, bakteri, hingga virus.

Uniknya, ancaman tersebut tidak membuat manusia berani meninggalkan perubahan tersebut.

Nyaman dan tergantung.

Misalnya, kita merasa tersiksa dan penuh kemarahan, ketika listrik di rumah padam selama 24 jam.

 Atau, begitu malasnya kita pergi ke warung yang jaraknya sekitar 100 meter tanpa menggunakan sepeda motor.

Padahal listrik dan bahan bakar kendaraan tersebut, harus didapatkan dengan merusak Bumi.

Sebenarnya, bahagiakah manusia pada hari ini? Entahlah.

New Normal

Pendemi Covid-19 yang melanda dunia, termasuk di Indonesia, mengacaukan peradaban manusia hari ini.

Berbagai budaya harus berhenti.

Sekolah diliburkan, kuliah dan kerja jarak jauh atau online, tempat hiburan ditutup, dilarang beraktifitas di rumah ibadah, dilarang berkumpul, dilarang menggelar pesta, bahkan saat perayaan Idul Fitr, umat muslim terpaksa bermaafan melalui media sosial atau telepon. Kita diminta banyak berdiam di rumah.

Selain itu, setiap orang wajib menggunakan masker saat keluar rumah, harus cuci tangan berulang kali, menjaga jarak dengan orang lain, serta harus banyak mengonsumsi vitamin, protein, dan makanan sehat lainnya.

Itu semua demi memutus penyebaran virus Covid-19.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved