Virus Corona

New Normal dan Peradaban Manusia

Peradaban manusia selalu berubah.Perubahan ini umumnya didorong keinginan menyelamatkan jiwa dan mencapai kebahagian.

Editor: Salman Rasyidin
ist
Taufik Wijaya 

Di Indonesia, persoalan kerusakan bentang alam, bukan hanya berdampak secara ekologi, juga sosial, ekonomi dan budaya.

Asumsi saya, kerusakan bentang alam telah merusak peradaban luhur bangsa Indonesia.

Guna menjamin rakyatnya hidup sehat, pemerintah Indonesia harus menyelesaikan berbagai persoalan lingkungan dan pangan.

INAgri [Institut Agroekologi Indonesia], sebuah NGO yang fokus persoalan pangan, menjelaskan kemandirian pangan Indonesia belum terjamin.

Sebab banyak petani tidak punya lahan atau lahannya sempit, serta tidak didukung teknologi.

Di sisi lain, banyak lahan pangan selain beras, seperti sagu, dirusak atau dialihfungsikan.

Hampir semua sungai di Indonesia [500 sungai], tercemar, yang disebabkan aktifitas dan limbah dari industri, perkebunan, pertambangan, serta masyarakat.

Pencemaran menurunkan kualitas air, sehingga tidak baik bagi kesehatan, dan menurunkan populasi ikan sebagai sumber pangan.

Kebakaran hutan dan lahan yang menimbulkan kabut asap dan pelepasan karbon sangat mengganggu kesehatan sebagian manusia Indonesia, berlangsung hampir setiap tahun.,19 juta Lima tahun terakhir [2015-2019], kebakaran hutan dan lahan mencapai 5.393.783hektar.

Tercatat, dari luasan Indonesia sekitar 190,5 juta hektar, sekitar 14,23 juta hektar menjadi perkebunan sawit.

 Lalu, berdasarkan catatan Jatam [Jaringan Advokasi Tambang] sekitar 44 persen dari luasan Indonesia tersebut telah dikavling menjadi tambang.

 Aktifitas ekonomi ini membuat hutan terbuka, lahan pertanian tergusur, dan kerusakan bentang alam.

McKinsey and Co and Ocean Conservancy menyatakan Indonesia menghasilkan sampah plastik setiap tahun sekitar 63,9 juta ton.

Meskipun data ini dibantah pemerintah Indonesia, faktanya sampah plastik merupakan persoalan bagi lingkungan negara ini.

Dikutip dari Kompas [4/4/2020], David Quammen, penulis buku Spillover: Animal Infections and the Next Human Pandemic, mengatakan, “Ketika kita menghancurkan hutan tropis, menggantikannya dengan desa, pertambangan, membunuh atau menangkap hewan liar untuk dimakan, kita membuka diri terhadap virus-virus itu,” katanya.

Sri Jayanasa, Raja Kedatuan Sriwijaya, dalam Prasasti Talang Tuwo pada abad ke-7, sudah mengingatkan hal ini.

Pesannya, jika manusia ingin terhindar dari berbagai penyakit, manusia harus memperlakukan alam untuk kebaikan semua makhluk hidup.

Tampaknya, jika New Normal tidak didukung upaya perbaikan lingkungan atau menyelamatkan Bumi, saya pikir New Normal di Indonesia hanya sebatas menyelamatkan kondisi ekonomi Indonesia saat ini

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved