SRIPOKU.COM - Tahukah tempat pusat perbelanjaan pertama dan tertua di Indonesia ternyata terletak di Jakarta.
Tak hanya sebagai mal pertama, bangunan ini juga merupakan gedung pencakar langit pertama di tanah air.
Pusat perbelanjaan ini dikenal dengan nama Sarinah.
Nama Sarinah juga tak terlepas dari sejarah bangsa Indonesia yakni Presiden Soekarno.
Sarinah mengawali usaha ritel modern Indonesia.
Didirikan pada tahun 1962, PT Sarinah (Persero) merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang ritel dan perdagangan.
Sarinah hadir sebagai wadah bagi segenap pegiat industri kreatif tanah air untuk menampilkan karya-karya terbaik mereka kepada khalayak luas.
Gedung Sarinah yang berada di Jalan Thamrin, Jakarta Pusat, tengah jadi perhatian publik menyusul tutupnya McD.
Belakangan diketahui, tutupnya restoran cepat saji tersebut karena ada renovasi besar-besaran dari pemilik gedung, PT Sarinah (Persero).
Letaknya yang berada di jantung Jakarta, menjadikan Gedung Sarinah jadi saksi bisu berbagi peristiwa penting di ibu kota seperti demontrasi, hingga terorisme. Gedung tua ini juga menyimpan sejarah panjang sejak republik ini baru seumur jagung.
Kelahiran Sarinah tak bisa dilepaskan dari Soekarno. Presiden pertama Indonesia ini ingin membangun pusat perbelanjaan pertama di Tanah Air yang diperuntukkan sebagai etalase barang produksi dalam negeri, khususnya yang berasal dari UMKM.
Gedung Sarinah memiliki tinggi 74 meter yang terdiri dari 15 lantai, menjadikannya sebagai bangunan pencakar langit pertama di Indonesia.
Sebagai pusat perbelanjaan modern pertama, membuat Sarinah saat itu langsung jadi ikon berbelanja di Jakarta.
Tak hanya mal pertama di Indonesia, Sarinah juga memiliki sejumlah fakta menarik lain untuk disimak seperti dirangkum dari laman BUMN.go.id, Sarinah.co.id dan Kompas.com.
• Sosok Ini Pertama Kali yang Berjasa Dibalik Munculnya Tunjangan Hari Raya (THR) di Indonesia!

Asal Nama Sarinah
Sarinah sendiri diambil dari nama salah satu pengasuh Presiden Soekarno di masa kecil. Dalam pengantar bukunya yang berjudul Sarinah, Soekarno menuliskan “Dari Mbok Sarinah, saya mendapat pelajaran mencintai 'orang kecil'. Ia orang kecil, tapi jiwanya selalu besar”.
Kecintaan Soekarno dan rasa hormat yang tinggi terhadap Sarinah diwujudkan dengan menamai pusat perbelanjaan pertama di Indonesia sesuai dengan nama pengasuhnya itu.
Sesuai dengan namanya, Sarinah telah membantu kepentingan masyarakat kecil sebagai mitra usaha. Hingga saat ini cukup banyak mitra binaan Sarinah baik perorangan, perusahaan maupun koperasi.
Gedung Pencakar Langit Pertama di Jakarta
Sarinah adalah pusat perbelanjaan setinggi 74 meter dan 15 lantai yang terletak di Menteng, Jakarta. Kala itu Sarinah merupakan pencakar langit pertama di Jakarta.
Mal Pertama di Indonesia
Ide berdirinya Sarinah tersebut merupakan hasil lawatan Soekarno ke sejumlah negara yang sudah lebih dulu memiliki pusat belanja modern.
Saat itu Soekarno ingin membuat pusat perbelanjaan untuk memenuhi kebutuhan rakyat mendapatkan barang-barang murah tapi dengan mutu yang bagus.
Sarinah merupakan Department Store pertama Indonesia yang didirikan pada tanggal 17 Agustus 1962, saat ekonomi Indonesia sedang runtuh di tahun 1959. Daya beli lemah, taraf hidup merosot sampai level terendah.
Mal tertua di Indonesia dibangun sebagai salah satu proyek mercusuar Bung Karno saat itu selain pembangunan Monas, GBK, Hotel Indonesia, dan bangunan-bangunan megah lain selama rezim Orde Lama. Gedung tersebut selesai dibangun dan diresmikan pada 15 Agustus 1966.
• DERETAN Uang Logam Indonesia Ini Ternyata Berlapis Emas, Gambar Presiden Soeharto Kadarnya 23 Karat!

Dibangun dari Pampasan Perang Jepang
Ketika Sarinah didirikan, Sarinah memiliki fasilitas tercanggih di zamannya. Gedung Sarinah yang saat ini berdiri sesungguhnya dibangun dengan biaya pampasan perang pemerintah Jepang yang pembukaan Department Store-nya pada 15 Agustus 1966.
Biaya pembangunannya berasal dari dana pampasan perang atau kompensasi dari pemerintah Jepang sebagai konsekuensi atas penjajahannya di Indonesia setelah kalah dalam Perang Dunia II melawan sekutu.
Cabang Sarinah
Gedung Sarinah dikelola oleh PT Department Store Indonesia. Belakangan, namanya berganti menjadi PT Sarinah (Persero). BUMN ini bergerak di bidang usaha perdagangan, penyewaan ruang kantor, hingga money changer.
Tak cuma di Jakarta, Sarinah saat ini memiliki outlet di beberapa kota seperti Bali, Yogyakarta, Solo, dan Malang.
Tujuan didirikan Sarinah
Selain etalase produk UMKM, tujuan awal Sarinah didirikan adalah untuk memenuhi kebutuhan rakyat agar bisa mendapatkan barang-barang murah tetapi dengan mutu yang bagus dan harga yang tidak terlalu tinggi.
Sebagai mal tertua di Indonesia, Sarinah bisa dibilang sepi dari pembeli meski berada di lokasi yang sangat strategis. Tak banyak pengunjung yang berbelanja di pusat berbelanjanya.
Ramainya pengunjung lebih sering terlihat di lantai yang ditempati tenant-tenant sepeti restoran cepat saji hingga tempat karaoke.
Kebakaran
Gedung Sarinah ternyata juga pernah mengalami kebakaran pada 1984 dan kemudian pada 2015. Bahkan pada 2015, kebakaran menelan dua korban.
Bangun Gedung Anyar
Kepulan asap terlihat dari lantai 14 gedung pusat perbelanjaan Sarinah, Jakarta, Kamis (15/10/2015).
Dua orang karyawan sebuah tempat karaoke mengalami luka-luka dalam peristiwa tersebut.
PT Sarinah (Persero) berencana merevitalisasi aset yang dimiliki. Dalam waktu dekat, perseroan bakal merenovasi gedung lama dan membangun gedung baru. Renovasi dan pembangunan gedung baru tersebut akan memakan dana sebesar Rp 1,8 triliun.
Renovasi Besar
Dikutip dari Kompas.com, Menteri BUMN Erick Thohir menyebut renovasi besar-besaran Gedung Sarinah akan menelan anggaran senilai Rp 700 miliar dan melibatkan sejumlah perusahaan BUMN lainnya. Termasuk PT Wijaya Karya (Persero) yang akan menjadi kontraktornya.
"Saya maunya di situ ada komunitas kesenian. Sabtu-Minggu adalah kesenian kita dimainkan di situ. Bisa pameran lukisan, atau videographic. Culture education community kita jalankan," kata Erick. "
Kurang lebih Rp 700 miliar. Kalau bongkar robohin lebih mahal. Tentu itu di luar ongkos buat operasionalnya jualan. Ada kerja sama dengan BUMN juga bukan swasta. Beberapa perusahaan BUMN akan ada fokus properti, retailnya Sarinah," kata dia lagi.
Menurut Erick, masyarakat di Indonesia kerap lebih mengapresiasi dunia Barat dibandingkan kualitas negeri sendiri. Sehingga, Erick Thohir ingin mengubah konsep Nusantara di Sarinah Thamrin ketika rampung direnovasi yang ditargetkan November 2021.
"Kadang-kadang kita ini terlalu ke barat-baratan. Padahal, waktu (kesenian) kita mainkan di airport di Bali malah diapresiasi," ujarnya.
Tak hanya kesenian, para pelaku industri perfilman Indonesia juga akan ditampilkan di sana beserta produk yang dipasarkan. Sebab, selama ini Sarinah memasarkan berbagai produk yang tak menarik minat pembeli.
"Industri film kita tadinya sempat naik, bisa saja di sini mereka bisa launching produk. Bisa saja film-film Indonesia me-launching dan menjual merchandise-nya di sini," ujarnya.
Erick menjelaskan, wacana renovasi serta mengubah konsep Sarinah sudah lama diusulkan sejak November 2019. Namun, baru terealisasi Juni nanti renovasinya.
Para pekerja renovasi bangunan tersebut pun akan bekerja di masa pandemi virus corona (Covid-19) dengan mengikuti protokol kesehatan. Pembenahan Gedung Sarinah ditargetkan rampung pada November 2021. Padahal, mantan Presiden Klub Sepakbola Inter Milan ini awalnya menginginkan renovasi tersebut tuntas pada Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-75.