Sekelompok Guru Terobos Jalan Rusak Demi Mengajar Murid di Pedalaman tanpa Internet dan Televisi
imbauan belajar di rumah dengan sistem daring untuk memutus mata rantai Covid-19 atau Virus Corona, tidak semua pelajar bisa melakukannya.
SRIPOKU.COM - Tidak semua wilayah di Indonesia sudah tercover jaringan internet.
Maka dari itu, imbauan belajar di rumah dengan sistem daring untuk memutus mata rantai Covid-19 atau Virus Corona, tidak semua pelajar bisa melakukannya.
Malah, meski stasiun TVRI sudah mengadakan program belajar dari rumah, masih ada saja anak-anak yang tinggal di kawasan tidak bisa menikmati siaran televisi.
Terkadang, di sinilah peran para tenaga pengajar diperlukan supaya anak-anak tetap bisa mendapatkan pendidikan di tengah pandemi Corona Virus Disease 2019.
• Video PSBB Palembang Hari Kedua, Banyak Pengendara Ditemukan Melanggar, tapi Belum Dikenakan Sanksi
Seperti itulah yang dialami para guru dan murid SMPN 3 Waigete, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka, NTT.
Mereka tidak bisa belajar dari rumah karena tidak memiliki televisi, ponsel, dan juga radio.
Lebih mirisnya lagi, di wilayah SMPN 3 Waigete ini, tidak ada sinyal telepon dan jaringan internet.
Hilarius Teta, salah seorang guru SMPN 3 Waigete, menuturkan agar siswa-siswi tidak ketinggalan pelajaran, ia bersama teman guru terpaksa harus jalan dari kampung ke kampung untuk menemui dan memberi mereka materi pembelajaran.
Hilarius mengatakan, cara itu adalah inisiatif dari para guru agar siswa-siswi tidak ketinggalan pelajaran selama masa pandemi Covid-19 ini.
Hilarius mengungkapkan, cara itu dilakukan lantaran di wilayah itu tidak terjangkau jaringan telepon. Apalagi jaringan internet.
"Sejak awal ada instruksi belajar dari rumah, kita melihatnya, anak-anak di wilayah kami tidak bisa nikmati program itu. Bagaimana mau belajar dari rumah, televisi, radio, dan handphone kan tidak ada.
Kalau pun radio dan handphone ada, jaringan internet kosong. Jadinya, anak-anak tidak bisa belajar apa-apa," ujar Hilarius kepada Kompas.com melalui sambungan telepon, Kamis (21/5/2020) pagi.
• Beredar Kabar Bantuan Sembako Terdampak Covid-19 di Muratara Isinya Ada Telur, Tuai Kontroversi
Hilarius menceritakan, guru-guru membuat jadwal kunjungan rumah setiap hari Senin dan Selasa.
Mereka membagi siswa-siswi ke dalam kelompok sesuai kampung asal yakni, Kilawair 1 kelompok, Kloangaur 1 kelompok, Klahit 3 kelompok, dan Glak 1 kelompok.
Setiap kelompok jumlah anggota bervariasi, semuanya tergantung banyaknya siswa di setiap kampung.