Buruh Dalam Sepotong Puisi

SETIAP hari buruh, biasanya kisah Marsinah sebagai martir buruh berseleweran di berbagai saluran sosial.

Editor: Salman Rasyidin
ist
Muhammad Walidin M.Hum 

Oleh: Muhammad Walidin M.Hum

Kaprodi Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Adab dan Humaniora UIN Raden Fatah Palembang

SETIAP hari buruh, biasanya kisah Marsinah sebagai martir buruh berseleweran di berbagai saluran sosial.

Mengawali permulaan 1 Mei, media twitter bahkan ramai dengan tagar Marsinah dan tagar May Day2020.

Kisah Marsinah adalah lambang perlawanan abadi bagi kaum buruh yang tak akan usai manakala hak-hak mereka tidak dipenuhi.

Betul kata sapardi Djoko Damono, ia telah menjadi Arloji sejati yang memintal kefanaan dan terlingkar abadi di pergelangan kita saat ini.

Marsinah tak benar-benar pergi sebab kini ia abadi di hati buruh dan pejuang kemanusiaan.

Sebuah puisi karya Maestro Puisi Indonesia, Sapardi Djoko Damono, yang diambil dari kumpulan puisinya,Melipat Jarak,berjudulDongeng Marsinah,layak kita ulas di sini agar hari buruh yang diperingati memberikan dampak kesejahteraan bagi buruh.

Dalam kaca mata semiotik, Puisi berjudul Dongeng Marsinah ini bukanlah merupakan sarana komunikasi biasa.

Ia merupakan dunia dalam kata yang dipenuhi oleh berbagai tanda yang menyaran sebagai sarana komunikasi antara pembaca dengan pengarangnya.

Dengan tanda itu, pembaca dapat mengetahui apa yang dimaksud oleh pengarang.

Sebagai tanda, makna karya sastra dapat mengacu kepada sesuatu di luar karya sastra itu sendiri ataupun di dalam dirinya.

Puisi dengan judulDongeng Marsinah ini terdiri dari 6 episode yang akan dibaca sesuai teori semiotik di atas pada setiap epidosenya. Kita mulai dengan episode /1/:

Marsinah buruh pabrik arloji,

mengurus presisi:

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved