Tidak Ada WNI Korban Kecelakaan di Iran

Pesawat jet Boeing 737-800 jatuh di dekat Parand, pinggiran barat daya ibukota Teheran, sesaat setelah lepas landas.

Editor: Soegeng Haryadi

JAKARTA, SRIPO -- Kementerian Luar Negeri RI menyatakan tidak ada korban jiwa warga negara Indonesia (WNI) terkait jatuhnya pesawat milik Ukraina di dekat Bandar Udara Imam Khomeini di Teheran, Iran, Rabu (8/1) siang. Peristiwa itu dilaporkan telah menewaskan seluruh 176 penumpang dan awak pesawat.

“Sudah, Kementerian Luar Negeri RI cek dan tidak ada korban WNI,” kata Direktur Perlindungan WNI Kemenlu Judha Nugraha di Jakarta, kemarin.

Seperti dikutip dari Stasiun Televisi Aljazeera, media Iran ISNA menyebut, pesawat jet Boeing 737-800 jatuh di dekat Parand, pinggiran barat daya ibukota Teheran, sesaat setelah lepas landas. Laporan sebelumnya mengatakan ada 180 orang di pesawat termasuk awak pesawat.

Menurut Flighradar24 Flight Tracker, pesawat Ukraine International Airlines dengan nomor penerbangan 752 dijadwalkan lepas landas pukul 5:15 waktu Teheran menuju Bandara Internasional Boryspil di ibukota Ukraina, Kyiv. Foto yang diposting kantor berita ISNA menunjukkan puing-puing pesawat tersebar di seluruh hamparan tanah, sementara personil SAR memeriksa daerah tersebut.

“Tim investigasi dari Departemen penerbangan nasional dikirim ke lokasi setelah ada berita itu. Kami akan memberikan laporan lebih lanjut nanti, “ kata juru bicara dari organisasi penerbangan Iran Reza Jafarzadeh kepada wartawan di Teheran.

Dalam sebuah pernyataan, Boeing mengatakan baru mengetahui kejadian itu dari laporan media. Boeing akan mengumpulkan informasi lebih lanjut mengenai insiden tersebut.

Insiden datang hanya beberapa jam setelah Iran meluncurkan serangan terhadap dua Pangkalan Militer Amerika Serikat (AS) di Irak. Boeing 737-800 adalah pesawat jet bermesin ganda yang digunakan untuk penerbangan jarak pendek hingga menengah. Banyak masakapai penerbangan di dunia menggunakan pesawat jenis ini.

Sementara itu, Kedutaan Besar RI di Teheran telah mengimbau sebanyak 474 warga Indonesia yang bermukim di Iran untuk waspada dan bersiap jika sewaktu-waktu harus dievakuasi. Kondisi di kawasan Timur Tengah semakin memburuk menyusul tewasnya Jenderal Qassem Soleimani oleh serangan pesawat nir-awak AS.

Duta Besar RI di Teheran, Octaviano Alimudin, menuturkan kebanayakan WNI tinggal di Kota Teheran dan Qom dan sebagian besar adalah pelajar dan mahasiswa.

"Saat ini kami melihat daerah Iran yang berbatasan dengan Irak, jadi itu yang kami perhatikan lebih dahulu. Ada beberapa WNI yang sudah siap-siap evakuasi karena kami menghindari adanya serangan balasan di wilayah itu," kata Octaviano kepada wartawan di Kemlu RI, Jakarta, Rabu (8/1).

Octaviano menuturkan, sedikitnya ada tiga WNI yang tinggal di perbatasan Irak-Iran. Ketiga WNI itu, telah melakukan persiapan jika harus dievakuasi dan berkomunikasi dengan KBRI.

"Kami cek keadaan para WNI ini melalui pengumuman KBRI, media sosial, tapi juga di grup WhatsApp. Kami kontak satu-satu," kata Octaviano.

Octaviano menuturkan, setiap perwakilan RI termasuk KBRI Teheran telah memiliki skenario untuk menghadapi keadaan darurat. "Ketika ada serangan balik sudah terjadi di satu sisi, kita lakukan evakuasi," katanya.

Serangan drone AS yang menewaskan Jenderal Iran Qassem Soleimani, pada Jumat pekan lalu menyebabkan ketegangan di Timur Tengah. Serangan itu diperintahkan langsung oleh Presiden Donald Trump, yang mengklaim bahwa Teheran sedang merencanakan serangan terhadap warga dan aset AS di Timur Tengah.

Iran mengutuk keras serangan AS tersebut dan bersumpah akan membalas kematian Soleimani dengan ganjaran yang seberat-beratnya. Kemarin, Rabu dinihari waktu setempat (Rabu pagi WIB), sejumlah serangan roket menghantam basis militer AS di Irak. Aksi balalsan Iran ini, dikhawatirkan memicu konflik terbuka baru.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved