Perkiraan Cuaca di Sumsel, Hujan dan Petir Hingga Maret 2020
Curah hujan kembali mengalami peningkatan hingga Maret sampai dengan memasuki musim peralihan ke musim kemarau umumnya berlangsung Maret-April 2020.
PALEMBANG, SRIPO -- Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Palembang memprediksi hujan dan disertai petir yang menerpa Provinsi Sumsel, bakal berlangsung hingga Maret 2020. Hal tersebut dipicu menguatnya angin muson Cina Selatan yang melalui wilayah Sumsel sarat uap air.
Kasi Observasi dan Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, Bambang Beny Setiaji mengatakan, dampak dari menguatnya angin muson tersebut membuat adanya potensi hujan disertai petir serta angin kencang yang umumnya terjadi pada siang-sore hari. Selain itu berpotensi terjadi hujan ringan yang berlangsung lama apabila terjadi pada malam hingga dini hari.
"Menguatnya angin muson menimbulkan potensi hujan disertai petir. Musim hujan akan berlangsung hingga bulan Maret," ujar Bambang, Jumat (27/12).
Menurutnya, bulan Desember dan Maret merupakan bulan dengan curah hujan tertinggi dari data normal Stasiun Meteorologi SMB II Palembang dalam kurun waktu 30 Tahun terakhir. Kondisi musim hujan akan terus berlangsung dan mengalami penurunan pada bulan Januari. Selanjutnya curah hujan kembali mengalami peningkatan hingga Maret sampai dengan memasuki musim peralihan ke musim kemarau umumnya berlangsung Maret-April 2020.
Sesuai dengan prakiraan, peringatan dan himbauan, hujan lebat disertai petir dan angin kencang pada Kamis, 26 Desember 2019 lalu kecepatan angin maksimum 48 Knots (89 Km/Jam) dan hujan lebat dengan kategori ekstrem sebesar 102,6 mm.
"Cuaca ekstrem ini mengakibatkan beberapa kerusakan bangunan, jaringan listrik PLN dan robohnya pohon wilayah Kota Palembang dan sekitarnya," ujar Bambang.
Bambang menyebut, adanya awan konvektif Cumulonimbus (awan hitam pekat berbentuk kembang kol) dalam bentuk Single Cumulonimbus karena petumbuhan awan Cumulonimbus-nya relatif sendiri/single mengakibatkan perbedaan tekanan dan suhu yang cukup signifikan antara daerah terpapar hujan dan disekitarnya yang belum terpapar hujan sehingga menyebabkan angin kencang.
Perubahan karakteristik permukaan bumi/tanah yang relatif rata akibat pembukaan lahan, kebakaran hutan dan minimnya pepohonan/hutan membuat potensi angin kencang pada wilayah berkarakteristik seperti ini akan berpotensi sering terjadi.
"Secara regional, hal ini juga diakibatkan adanya badai Tropis Phanfone di Laut Cina Selatan. Pertemuan massa udara (konvergensi) di wilayah Sumsel yang meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan (cumulonimbus), berpotensi hujan disertai petir dan angin kencang," jelas Bambang.
BMKG menghimbau kepada masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam bertransportasi pada siang hingga sore hari di saat hujan. Disarankan agar tidak berteduh di bawah pohon saat hujan terjadi karena berpotensi pohon akan roboh.
Atap Rumah Melayang
Sementara pasca hujan lebat disertai angin kencang dan petir, Kamis (26/12) petang, banyak pohon maupun papan baliho yang roboh dan menimpa kendaraan yang tengah parkir didekat area tersebut.
Diutarakan Lurah Kuto Batu, Kalsum, dikawasan Kelurahan Kuto Batu setidaknya ada dua mobil yang tertimpa pohon tumbang, pertama jenis mobil double cabin dan mobil minibus.
"Alhamdulillah tidak ada korban jiwa, lokasinya di depan showroom TAG dan sekarang ada yang sudah di ambil pemiliknya, ada juga yang dititipkan ke pihak TAG," ujarnya saat ditemui sela-sela pembersihan pohon tumbang di Jalan Veteran, Jumat (27/12)
Menurut Kalsum, pihaknya juga menerima laporan dari warga bahwa ada dua pohon tumbang di Jalan Veteran serta terdapat rumah warga yang atapnya roboh dan rusak karena tiupan angin kencang kemarin petang.
"Untuk di RT 03 ada tiga rumah yang atapnya roboh, lalu di RT 05 ada enam rumah, RT 25 ada satu rumah. Pasca hujan deras kemarin di Kelurahan Kuto Batu debit airnya masuk ke sekitar rumah warga, terlebih adanya normalisasi di Jalan Dr M Isa kondisi rumah warga di Kuto Batu semakin banyak yang terimbas genangan air dan ini menjadi keluhan warga di RT 16 dan 17," ujarnya.
