11 November Baru Muncul Awan Hujan

Potensi asap kembali terjadi dikarenakan secara regional, seiring adanya pusat tekanan rendah dan Badai Tropis Halong di Laut Cina Selatan

Penulis: Rahmaliyah | Editor: Soegeng Haryadi
SRIPOKU.COM/IGUN BAGUS SAPUTRA
Ilustrasi 

PALEMBANG, SRIPO -- Cuaca panas dan terik begitu dirasakan masyarakat Kota Palembang khususnya pada, Kamis (7/11/2019). Tak sedikit yang ikut berkomentar dan meramaikan jagad Maya dengan status cuaca seruan "panas bedengkang".

Bahkan dari hasil pantauan, beberapa pengendara bermotor yang melintas dikawasan Simpang 5 DPRD Provinsi Sumatera Selatan terutama saat dilokasi pemberhentian traffic light, lebih memilih untuk berteduh dibawah rindangnya pohon besar.

Thoriq, salah seorang mahasiswa di Universitas Tridinanti mengatakan kondisi cuaca panas ia rasakan sejak beberapa hari ini. "Keringat sampai basah baju saya. Padahal kemarin sudah hujan tapi kok masih cuacanya panas bedengkang," ujarnya.

Sementara itu, saat dikonfirmasi, Kepala BMKG Stasiun Kenten, Nuga Putranjito menjelaskan, kondisi ini dikarenakan asalnya fenomena Tropical Siklon Nakri di Laut China Selatan, sehingga menyebabkan konsentrasi uap air tersedot ke arah sana.

"Makanya kelembaban udara relatif rendah (kering) akibat dari fenomena ini, tidak ada tutupan awan khususnya di atas Sumatera Selatan, Suhu udara di Stasiun Klimatologi Palembang pada jam 15.00 wib tercatat 36,8°C" jelasnya.

Kemudian, kata Nuga, Posisi matahari di Selatan Equator juga menjadi indikator cuaca terik yang terjadi beberapa waktu terakhir yang mengakibatkan wilayah selatan mendapatkan radiasi matahari lebih tinggi dari pada sebelah utara equator.

"Pengaruh keduanya posisi matahari dan tidak adanya tutupan awan, suhu udara meningkat, makanya terjadi panas yang cukup menyengat," jelasnya.

Peristiwa ini kata Nuga akan meluruh seiring nanti hilangnya TC NAKRI di Laut China Selatan yg diperkirakan akan hilang pada 11 November 2019.

"Seiring dengan hilangnya TC NAKRI tersebut, diprediksi akan terjadi curah hujan yang cukup signifikan di wilayah Indonesia termasuk Sumatera Selatan. Perlu diwaspadai hujan lebat yang tiba2 disertai petir dan angin kencang," ujarnya.

BMKG pun mengimbau agar masyarakat dapat mengurangi kegiatan di luar ruangan yang langsung terpapar matahari, banyak minum air untuk menghindari dehidrasi.

Terpisah Kepala Seksi Observasi dan Informasi Stasiun Meteorologi SMB II, Bambang Beny Setiaji mengatakan udara akan terasa lebih terik pada siang hari dengan temperature maksimum 35°C karena posisi matahari berada di sekitar ekuator (khatulistiwa).

"Untuk itu diimbau pula bagi masyarakat agar tidak melakukan pembakaran baik itu sampah rumah tangga maupun dalam pembukaan lahan pertanian atau perkebunan. Sebab musim kering seperti saat ini sangat mudah terjadi kebakaran," ujarnya saat kembali di konfirmasi, Kamis (7/11/2019).

Terkait asap, BMKG Sumsel juga sudah memprakirakan potensi peningkatan asap yang akan kembali terjadi di wilayah Sumsel pada 6-8 November 2019.

Potensi asap kembali terjadi dikarenakan secara regional, seiring adanya pusat tekanan rendah dan Badai Tropis Halong di Laut Cina Selatan mengakibatkan masuknya massa udara dingin dari Australia (Muson Australia).

Hal ini menyebabkan lapisan udara atas kembali kering dan berangin kencang yang akan menghambat pertumbuhan awan hujan di wilayah Sumsel.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved