Mengenal Istilah Semende, Prinsip Pernikahan yang Dipegang Teguh Masyarakat Muara Enim

Menyebut dan membicarakan Semende, akan mengingatkan suatu daerah dataran tinggi di Kabupaten Muaraenim.

Mengenal Istilah Semende, Prinsip Pernikahan yang Dipegang Teguh Masyarakat Muara Enim
SRIPOKU.COM/ARDANI ZUHRI
Bertani sudah menjadi salah satu aktifitas mencari nafkah masyarakat Semende yang ada di Muara Enim. 

Laporan wartawan sripoku.com, Ardani Zuhri

SRIPOKU.COM - Menyebut dan membicarakan Semende, akan mengingatkan suatu daerah dataran tinggi di Kabupaten Muaraenim.

Menurut H Taslim SPd selaku Pemangku Adat Semende Darat Laut (SDL) dan Sultan Indra SH selaku pemerhati budaya, kata Semende terdiri dari dua suku kata, yaitu Seme dan Ende, dengan pengertian Seme = Sama dan Ende = Harga.

Jadi kata Semende = Sama Harga menurut logat Semende same rege yaitu betine (perempuan) tidak membeli dan bujang (lelaki) tidak dibeli.

Bahasa sehari-hari Jeme Semende (orang semende) adalah bahasa Semende dengan kata-katanya berakhiran E rendah (seperti lafal dalam kata pernah, menang, ketika).

Dilihat dari logat dan sebutan kata, bahasa semende ini termasuk dalam kelompok bahasa Melayu.

Sedangkan bahasa tulis menulisnya dikenal dengan Surat Ulu dan tempat menulisnya dibuat dari kulit kayu yang disebut dengan Kaghas.

Pengertian Semende diartikan hubungan perkawinan (Semende) bahwa laki-laki datang tidak dijual dan perempuan menunggu tidak membeli.

Semende menjadi Adat Semende disebut Tunggu Tubang yang penjabarannya dimulai berdasarkan Harta Pusake tinggi dan Harte Pusake Rendah.

Kedua-duanya tidak boleh dibagi dan sebagai penunggu ditunjuk anak perempuan tertua, jika tidak ada anak perempuan, maka anak laki-laki tertua sebagai tunggu tubangnya (anak belai).

Halaman
123
Penulis: Ardani Zuhri
Editor: Refly Permana
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved